Hilirisasi Timah di Batam: Pukulan bagi Bangka Belitung
Namun, kenyataannya, impian itu belum juga menjadi nyata di tanah mereka. Malah Batam dan Banten, yang selama ini bukan penghasil timah, justru mendapatkan kesempatan lebih dulu. Ini adalah pukulan yang sangat menyakitkan bagi mereka yang sudah bertahun-tahun bekerja keras di sektor pertambangan timah.
Bukan itu saja kerusakan lingkungan yang luar biasa yang harus ditanggung bumi Bangka Belitung dalam bentuk hancurnya terumbu dan hutan bakau di pesisir, musnahnya hutan dan degradasi lahan di daratan. Adalah bukti tak terbantahkan akan beratnya beban masyarakat dan ekologi di Bangka dan Belitung.
Seolah-olah, Batam yang lebih siap dalam hal infrastruktur dan fasilitas, lebih diprioritaskan, sementara Bangka Belitung hanya dianggap sebagai pemasok bahan mentah semata.
Pelajaran dari Batam: Keputusan yang Membuka Mata
Namun demikian kita pun harus jujur. Batam adalah pilihan yang tak bisa dipungkiri. Infrastrukturnya lebih lengkap, tenaga kerjanya lebih terampil, dan status kawasan perdagangan bebas memberi keuntungan lebih. Tetapi, tak bisa dipungkiri bahwa keputusan ini bisa menjadi pelajaran bagi Bangka Belitung. Ini adalah saat yang tepat untuk kembali merenung dan bertanya: apa yang harus kita lakukan untuk tidak terus tertinggal?
Bangka Belitung, dengan segala potensi timahnya, harus segera berbenah. Jika ingin hilirisasi timah terjadi di sini beberapa Langkah serius yang mesti disiapkan sejak dini diantaranya:
- Menata Infrastruktur dengan Serius
Langkah pertama yang harus diambil adalah menata infrastruktur secara serius. Batam memang unggul dalam hal ini, tapi kita tidak bisa terus-terusan mengeluh soal itu. Bangka Belitung sudah memiliki landasan yang baik, tapi masih banyak yang perlu diperbaiki. Akses transportasi, kawasan industri yang ramah bagi investor, dan konektivitas antarwilayah perlu disempurnakan.
Pembangunan jalan, pelabuhan, dan fasilitas pendukung lainnya harus segera diprioritaskan. Jangan biarkan potensi kita terhenti hanya karena masalah infrastruktur yang terabaikan. Masalah Pelabuhan yang menjadi hambatan sejak berdirinya provinsi mesti dicarikan solusinya. Agak ironis memang derah kepulauan seperti Bangka Belitung tetapi sampai sekarang tak kunjung memiliki pelabuhan yang memadai yang dapat diandalkan untuk kegiatan logistik.
- Mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) Lokal
Batam mungkin unggul dalam hal tenaga kerja terampil, tapi itu bukan alasan bagi Bangka Belitung untuk menyerah. Kita punya banyak potensi sumber daya manusia lokal yang bisa dilatih dan dikembangkan. Program pelatihan dan pendidikan yang fokus pada pengolahan timah dan industri hilirisasi harus digalakkan.
Pemerintah harus bekerja sama dengan perusahaan tambang dan sektor pendidikan untuk menciptakan tenaga kerja yang tidak hanya siap pakai, tetapi juga inovatif dan mampu bersaing di tingkat global. Adanya universitas dan politeknik hendaknya dapat lebih didorong agar memenuhi kebutuhan tenaga terampil yang mampu menjadi andalan daerah.
- Menawarkan Insentif untuk Investasi Hilirisasi
Jika kita ingin investor datang dan mendirikan pabrik hilirisasi di Bangka Belitung, kita harus bisa memberikan lebih dari sekadar janji. Insentif fiskal dan non-fiskal harus disiapkan. Pembebasan pajak, kemudahan perizinan, dan jaminan kepastian hukum bagi para investor menjadi hal yang harus diprioritaskan.
Tanpa insentif yang jelas, investor akan terus memilih Batam yang sudah menawarkan semua keunggulan itu. Kasus tata Kelola timah yang terjadi selama ini seolah-olah merupakan gambaran bagaimana citra daerah dalam hal insentif dan kepastian hukum kemudian menjadi semakin kurang positif.
- Memperkuat Kolaborasi dengan Pemerintah Pusat
Bangka Belitung tidak bisa berjalan sendirian. Pemerintah daerah harus memperkuat komunikasi dan kolaborasi dengan pemerintah pusat. Kita perlu memastikan bahwa hilirisasi timah menjadi salah satu prioritas nasional. Jangan biarkan daerah lain, seperti Batam, terus-menerus mendapatkan keistimewaan yang seharusnya juga bisa kita nikmati.
Dengan peran aktif pemerintah daerah, pemerintah pusat akan lebih mudah memahami betapa pentingnya hilirisasi timah untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Bangka Belitung. Dari sisi jumlah senator memang kurang menguntungkan sebagai representasi jumlah penduduk yang terbatas tapi sebagai daerah memiliki komoditas timah.
Senator Bangka Belitung terpaksa harus berjuang sendirian, berbeda dengan komoditas lain seperti batu bara dan migas dimana cukup banyak daerah penghasilnya. Akan tetapi keberadaan anggota DPRRI asal Bangka Belitung, Bambang Patijaya sebagai Ketua Komisi XII yang membidangi sektor Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) akan sangat strategis memainkan perannya.
Hal lain yang tak boleh dilupakan ialah pengalaman dikuras selama sekitar 300 tahun timah dan sumber daya alamnya. ini memberikan pemahaman penting bahwa hilirisasi timah bukan hanya soal keuntungan ekonomi. akan tetapi juga ini juga menyangkut soal lingkungan dan keberlanjutan. Bangka Belitung harus menjadi pionir dalam mengembangkan industri hilirisasi yang ramah lingkungan.
Proses pengolahan timah harus dilakukan dengan teknologi yang lebih bersih dan efisien, meminimalkan kerusakan alam. Jika kita berhasil menjalankan industri ini dengan pendekatan yang berkelanjutan, bukan hanya ekonomi yang akan tumbuh, tetapi juga citra kita sebagai daerah yang peduli terhadap lingkungan.
Ini semua merupakan panggilan untuk berubah. Hilirisasi timah bisa saja dimulai di Batam dan Banten, tapi jangan sampai Batam dan Banten menjadi satu-satunya cerita sukses sementara Bangka Belitung tetap terjebak dalam kisah yang sama, sebagai pemasok bahan mentah.
Kita harus bergerak cepat, memanfaatkan segala potensi yang ada, dan menyiapkan Bangka Belitung untuk menjadi pemain utama dalam industri hilirisasi timah dunia. Jika kita bersatu, berinovasi, dan berkomitmen, maka hilirisasi timah yang diimpikan bisa benar-benar terwujud di tanah kita sendiri. Salam Takzim.
Penulis merupakan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung.
