Oleh: Yan Megawandi

Dalam setahun belakangan nampaknya memang berita-berita yang kurang menguntungkan yang lebih sering melanda Bangka Belitung. Belum kelar urusan pemberitaan mengenai kasus tata niaga timah yang disinyalir merugikan negara sampai Rp300 triliun yang sampai sekarang masih berlangsung sidangnya bahkan muncul pula polemik soal nilai angka kerugian yang dipandang tidak sesuai kenyataan serta digugat oleh sekelompok orang di Babel.

Ini muncul pula satu berita yang baru saja mengguncang dunia industri pertimahan Indonesia: Batam, bukan di Kepulauan Bangka Belitung, yang dipilih menjadi pusat hilirisasi timah terbesar kedua di dunia setelah China. Itu berita yang dilansir oleh gokepri.com, Jumat (24/1) kemarin.

Seperti disambar petir di siang bolong, masyarakat Bangka Belitung yang selama ini dengan penuh harap menantikan hilirisasi tambang timah di tanah kelahiran mereka, kini harus menerima kenyataan pahit ini. Dan ini bukan sekadar soal pabrik yang dibangun, melainkan soal impian besar yang seakan terkubur begitu saja.

Diberitakan oleh gokepri.com bahwa pabrik hilirisasi timah senilai Rp1 triliun akan dibangun di Batam, tepatnya di kawasan Sei Lekop, dan diperkirakan mulai beroperasi pada 2026. Pembangunan pabrik hilirisasi timah dilakukan oleh PT Batam Timah Sinergi (BTS) dimulai di Batam pada Jumat (24/1).

Baca Juga  Pesantren dalam Sorotan: Menjaga Kepercayaan di Tengah Penyimpangan Perilaku

Pabrik ini akan memproduksi berbagai produk turunan timah yang bernilai tinggi, seperti Stannic Chloride, Dimethyl Tin Dichloride (DMTCL), dan Methyl Tin Mercaptide. Dengan kapasitas produksi mencapai 16.000 metrik ton per tahun, Batam akan menjadi produsen terbesar kedua di dunia dalam hal produk turunan timah. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan bagi Batam. Lalu bagaimana dengan Bangka Belitung?

Bangka Belitung, ‘Rumah’ Timah, Tertinggal Jauh

Bangka Belitung, yang sejatinya merupakan salah satu penghasil timah terbesar dunia, seharusnya menjadi tempat pertama yang mendapatkan kesempatan untuk memimpin industri hilirisasi timah ini. Timah yang diekstraksi dari tanah Bangka Belitung selama ratusan tahun, justru dikirim begitu saja keluar negeri, dalam bentuk bahan mentah yang belum memadai nilainya.

Seandainya ada kebijakan yang lebih berpihak, Bangka Belitung mestinya sudah lama bisa menjadi pusat hilirisasi timah. Itu tentu merupakan sebuah langkah yang bisa mengubah wajah ekonomi daerah ini. Namun, harapan itu kini seolah terhempas angin.

Baca Juga  Urgensi dan Dilema Undang-Undang Penyitaan Aset

Di sekitar tahun 2008-2009 masyarakat Bangka Belitung juga telah pernah patah hati. Waktu itu PT Timah yang sumber usahanya mayoritas berasal dari Bangka Belitung mengembangkan usaha yang sekarang kita kenal sebagai hilirisasi timah di Banten. Di Cilegon tepatnya.

Wachid Usman selaku Dirut PT Timah Tbk ketika itu melakukan peletakan batu pertama pembangunan pabrik tin chemical PT Timah Industri di kawasan industri PT Krakatau Industrial Estate Cilegon, Banten, Sabtu (17/1/2009), sebagaimana diberitakan oleh finance.detik.com. Waktu itu investasinya senilai Rp250 miliar. Sumber timahindustri.com menyatakan bahwa PT Timah Industri, juga membangun pabrik tin solder powder dua line di Cilegon, yang ditargetkan rampung pada Januari 2024.

Masih menurut sumber timahindustri.com, saat ini PT Timah Industri memiliki tiga pabrik tin chemical dan satu pabrik tin solder sejak 2009 yang memproduksi Stannic Chloride (SnCl4) berkapasitas 3.000 ton dengan merek BANKASTANNIC, dan Dimethyltin Dichloride (DMT) berkapasitas 8.000 ton dengan merek BANKASTAB DMT Series. PT Timah Industri juga memproduksi Methyltin Stabilizer (MTS) berkapasitas 10.000 ton dengan merek BANKASTAB MT Series, dan tin solder berkapasitas 2.000 ton dengan merek BANKAESA.

Baca Juga  Pro Kontra Uang Pensiun DPR

Pembangunan pabrik hilirisasi timah di Batam tentu tidak sekadar langkah besar bagi kota industri tersebut. Batam yang memiliki infrastruktur memadai, ketersediaan listrik stabil, tenaga kerja berkualitas, dan status kawasan perdagangan bebas, menjadi pilihan strategis.

Tak salah Batam dipilih. Namun, jangan lupa, Bangka Belitung juga memiliki potensi yang tak kalah hebat. Infrastruktur memang belum semaju Batam, tetapi mestinya tetap ada ruang untuk tumbuh. Tanah Bangka Belitung penuh dengan timah, mengapa tidak diproses langsung di sana?

Warga Bangka Belitung, yang telah lama berharap agar timah yang mereka gali bisa diolah langsung di daerah mereka, kini harus menelan kenyataan. Hilirisasi, yang sejatinya menjadi janji besar pemerintah, kini seolah lari begitu saja ke Batam dan Banten.

Pemerintah daerah dan masyarakat Bangka Belitung tentu merasa kecewa, dan mungkin sedikit terluka. Mereka sudah lama menunggu janji itu, dengan harapan hilirisasi akan mendatangkan lapangan pekerjaan, meningkatkan ekonomi, dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.