Hal ini menciptakan lingkungan yang (toxic),di mana individu merasa berhak untuk menyerang tanpa mempertimbangkan dampaknya pada orang lain”. Kontradiksi di sini adalah bahwa ruang untuk diskusi bebas dan eksplorasi ide dapat dengan mudah berubah menjadi arena konflik yang merusak.

Dari sudut pandang etika, kita harus merenungkan tanggung jawab besar (moral) kita sebagai pengguna media sosial (tidak sekadar viral dan mendapatkan keuntungan ekonomis dari setiap konten-kontennya). Apakah kita lebih mementingkan kecepatan dalam berbagi informasi, atau kita rela meluangkan waktu untuk (memverifikasi) kebenarannya? Adakah ruang untuk empati dalam komunikasi digital kita, atau kita terlalu terfokus pada pandangan pribadi kita hingga mengabaikan dampak negatif terhadap orang lain?

Baca Juga  Menjaga Kearifan Lokal: Cengkeh, Laut, dan Tradisi Pulau Kelapan

Dengan demikian, kontradiksi etika bermedia sosial terletak pada ketegangan antara kebutuhan untuk terhubung dan tanggung jawab untuk berperilaku adil. Keterhubungan tak terpisahkan dari tantangan-tantangan ini, dan kita perlu mengevaluasi kembali pola pikir kita agar bisa mengarungi dunia media sosial secara etis.

Pendidikan digital semua kalangan dalam bermedia sosial menjadi sangat penting dalam konteks ini, memberi pemahaman tentang etika dalam berinternet dan mendidik individu untuk bersikap kritis dan bijaksana.

Mempertimbangkan berbagai dampak dari setiap kata, atau konten yang kita tuliskan (upload) dapat menciptakan sebuah komunitas media sosial yang lebih sehat, inklusif, dan empatik. Dengan demikian, “kita bisa berkontribusi pada perubahan positif, mengatasi kontradiksi etika yang ada, dan menciptakan ruang digital yang benar-benar memberdayakan semua orang”.

Heri Suheri merupakan penulis tetap Timelines.id.