Pongah marah, tetapi jauh di lubuk hatinya, ia tahu komentar salah satu pengikutnya ada benarnya. Ia merasa postingan tentang cermin retak seribu, yang seharusnya mencerminkan dirinya, hanya menampilkan sisi buruk dan kepura-puraan. Beberapa teman dekatnya pun mulai menjauh. Mereka muak dengan sifatnya yang terus-menerus menghakimi, tanpa berusaha memperbaiki dirinya sendiri.

Bulin pun melihat perubahan ini dan memutuskan untuk mengajak Pongah berbicara. Pongah, kau tahu tidak? Tidak ada yang sempurna. Media sosial seharusnya menjadi tempat berbagi, bukan merendahkan.”

Pongah menyeringai, “Kau selalu menganggap dirimu lebih baik, Bulin!”

Bulin meraih ponsel Pongah dan menunjukkan komentarnya yang merendahkan. “Tapi, lihatlah ini. Ini bukan cara yang baik untuk berhubungan dengan orang lain.”

Baca Juga  Koloni di Rawa Ambisi

Lalu Bulin menambahkan, “Cobalah lihat kembali ke dalam dirimu. Cermin itu akan selalu menunjukkan siapa kau sebenarnya.”

Akhirnya, Pongah terdiam. Dalam cermin retak seribu yang pernah ia unggah, ia melihat sosok yang terjebak dalam cangkang kebanggaan dan kebencian. Ia merasa terjebak dalam dunia yang ia ciptakan sendiri, yang dipenuhi dengan kebohongan.

Beberapa minggu kemudian, Pongah mulai mengubah cara pandangnya. Ia berusaha berhenti menghakimi orang lain dan mencoba memperbaiki hubungannya. Meski sulit, terutama saat ia merasa gundah dengan reaksi orang lain, sedikit demi sedikit, ia belajar menerima diri sendiri dan orang lain.

Namun, meski Pongah berubah, jejak jelek yang telah ia tinggalkan masih membekas. Cermin retak seribu yang ia miliki tetap ada, mengingatkannya pada semua kekurangan yang pernah ia tunjukkan.

Baca Juga  Serial Kisah Ayu

Pongah menyadari, meski ia dapat memperbaiki diri, tidak semuanya bisa kembali seperti semula. Ia tidak akan pernah bisa mengubah pengalamannya yang buruk, tetapi ia bisa berusaha menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya. Dan mungkin, suatu hari, ketika orang-orang melihat cerminnya, mereka akan melihat hati yang tulus dan penuh makna, bukan cerminan dari retakan-retakan cermin yang dulu.

Akhirnya, di dunia yang penuh dengan cermin retak seribu, Pongah memutuskan untuk membuat kisah baru, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang-orang yang pernah ia abaikan. Mengingatkan setiap orang bahwa dari retakan seribu yang ada, bisa muncul keindahan yang luar biasa jika kita mau berusaha.

Baca Juga  Penulis dan Gadis Sekapur Sirih

“Mudah-mudahan Pongah berubah menjadi lebih baik dan bijaksana.”