Karya: Khoiriah Apriza

“Rania, makan dulu baru main!” teriak Santi dengan wajah kesal mengejar anaknya yang sudah di depan pintu.

“Rania enggak lapar Bu, sorean aja makanya ya,” tolak sang anak.

“Pikirkan kondisi kamu Rania. Kemarin kan habis kemoterapi. Lagian kamu pulang sekolah bukannya istirahat malah langsung pergi main.”

“Ibuku yang cantik jelita. Rania enggak apa-apa. Lagian, Rania sudah ditunggu teman-teman di lapangan,” ujar Rania.

“Anakku yang pintar dan tidak sombong. Alangkah baiknya ketika pulang sekolah itu istirahat dulu, bukan langsung main,” sahut Santi tersenyum manis.

“Ayolah Bu, Hari ini saja,” rayu Rania dengan wajahnya yang melas.

“Oke, jangan pulang sebelum ashar,” ujar Santi mengalah.

“Siap Ibu negara!”

Rania dengan cepat keluar dari rumah dan segera menggowes sepeda ungunya. Ia melewati persawahan yang mulai menguning. Sesekali ia menyapa ibu-ibu yang sedang bekerja di sawah.

Rania dikenal sebagai anak yang ramah di desanya. Bahkan, saking ramahnya Rania, bertemu orang yang tak dikenalnya di jalan saja ia sapa.

“Kalau kata Ibu, Senyum itu bagian dari ibadah. Jadi, kalau kita banyak senyum dengan orang, maka semakin banyak juga pahala kita,” jawab Rania jika ada yang bertanya mengapa ia sering menyapa orang yang tak dikenalnya.

Baca Juga  Pantun Liburan ke Bangka Selatan (Bagian III): Wisata Pantai

“Rania, Sini cepat. Ada kakak-kakak cantik di rumahnya Pak RT,” teriak Rini, teman mainnya Rania.

Rania memarkirkan sepedanya sembarangan, kemudian mengikuti Rini dan Lukman yang sedang mengintip rumah Pak RT dari balik pohon jambu di dekat lapangan.

“Orang dari mana sih mereka?” tanya Lukman penasaran.

“Kayaknya dari kota, lihat aja penampilan,” jawab Rini.

“Yuk samperin,” ajak Rania.

“Malu lah Ran, orang enggak kenal juga. Lagian kita kan masih anak-anak bau kencur,” tolak Rini.

“Kamu aja tuh yang bau kencur, aku mah wangi,” ujar Rania yang berjalan dengan santai menuju rumah pak RT.

Rini dan Lukman pasrah dan segera menyusul Rania yang dengan beraninya menyapa orang asing.

“Oh ya kak, Kenalin ini teman Rania. Ada Rini dan Lukman,” ujar Rania mengenalkan kedua temannya.

“Hai Rini, Lukman. Saya Kak Seto, dari Bandung”

“Nama kakak, Anggi. Ini ada Kak Susan, Kak Jamal dan Kak Ambar. Kita semua dari Bandung Dek, Kebetulan mau KKN di desa kalian,” ujar Anggi memperkenalkan yang lainnya.

Baca Juga  Puisi-puisi Dian Chandra

“Kakak semuanya bakal lama di sini?” tanya Rania.

“Sekitar satu bulan gitu dek,” jawab Susan.

“Adek-adek ini kelas berapa?” tanya Jamal.

“Kita kelas 6 SD Kak, kalau Kakak kelas berapa?” tanya Lukman.

“Kita udah kuliah dek,” jawab Jamal terkekeh kecil.

“Tau nih Lukman, masa gitu aja ditanyain,” gerutu Rania.

“Ya udah Kak, kami lanjut main dulu ya. Takut udah sore enggak bisa main lagi,” pamit Rini.

“Ya udah, kapan-kapan kita main bareng ya,” ujar Anggi tersenyum.

“Oke Kak,” jawab mereka bertiga bersemangat.

*

Santi sedang menyiapkan lauk-pauk untuk mereka makan malam. Di samping meja makan, terlihat Rania yang sedang fokus membaca buku.

“Makan dulu Ran, habis itu lanjut belajar,” perintah Santi.

Rania hanya berdehem singkat. Kedua matanya nampak fokus mengerjakan soal Matematika. Tanpa ia sadari, ada yang menetes membasahi bukunya.

Rania nampak terkejut dan segera mengambil tissue dan menutupi hidungnya agar darah tak banyak mengalir.

Santi yang melihat kejadian itu pun panik. Ia langsung meninggalkan gorengan tempe dan mendekati Rania.

“Ibu kan udah bilang Ran, kalau pulang sekolah itu istirahat dulu. Jangan langsung main, Ini pasti kecapean,” ujar Santi khawatir.

Baca Juga  Kaya yang Sebenarnya

“Rania enggak apa-apa kok Bu, cuma sedikit pusing aja,”

“Kamu enggak minum obat ya?” tanya Santi.

“Lupa Bu, tadi siang langsung pulang dan main,”

“Ya Allah Rania. Kamukan tau badanmu ini lemah, masih aja suka lupa minum obat,” omel Santi. Ia berjalan menuju kompor dan segera mematikannya. Ia meletakkan tempe di piring lalu berjalan lagi menuju meja makan.

“Raniakan tau kalau Rania itu sakit Kanker. Jangan disepelekan dong sayang,” ujar Santi. Dia duduk di kursi dan membawa Rania dalam pelukannya.

“Rania capek minum obat Bu. Rania enggak sembuh-sembuh jugakan,” lirih Rania.

“Sayang jangan ngomong gitu dong. Ingat kata pak dokter, kalau Rania mau sembuh harus rutin minum obatnya,” peringat Santi.

“Tapi Rania capek Bu, Rania juga pasti bakal mati jugakan sama kayak ayah,” cetus Rania sambil melepas pelukannya.

Santi berdiri dan berteriak, “Rania!”

Rania nampak terkejut. Kedua matanya berkaca-kaca dan ia hanya bisa menundukkan kepalanya.

Santi yang tersadar ia telah menyakiti hati anaknya, segera memeluk dan menenangkannya. Santi menangis sambil terus meminta maaf kepada Rania.