Karya: Sudi Setiawan

Gelap. Awalnya kupikir ini adalah awan malam yang gelap di malam hari, ternyata ini adalah takdir yang telah menyertaiku sekarang. Apakah ini adalah akhir dari kisahku saat ini? Ah kepalaku terasa sakit sekali. Perasaanku teramat sangat khawatir kepadanya dan perasaan-ku berlari entah ke mana tentang apa yang harus aku hadapi nanti.

Aku duduk termenung di bangku speedboat yang melaju kencang membelah lautan malam yang sunyi dan pikiran tak tahu berlabuh dimana. Hanya deru mesin kapal yang bersentuh air lautan menjadi temanku malam yang dingin ini. “Pak, tunggu aku pulang,” mengepal kedua tanganku yang gemetaran.

**

Sore itu, perahu kater[1] bersandar di tepi dermaga yang tak jauh dari kampung nelayan bernama Celagen-Kepulauan Pongok[2]. Pemilik perahu nelayan tradisional itu baru saja pulang setelah melaut seharian menebar jala-mengais rezeki-di lautan yang luas.

Wajahnya terlihat kusam dan kering setelah diterpa panas terik matahari seharian dengan membawa beberapa ember berisi ikan-ikan segar hasil tangkapan, jenis ikan itu ada: tongkol, layang-layang dan ikan tenggiri yang cukup besar. Lalu berjalan perlahan di atas bagan. laki-laki itu tersenyum manis mengangkat ember itu ke arahku, anaknya yang menunggu kedatangannya di dermaga kayu yang menjorok ke arah laut.

“Laut, Pak pulang!”

“Pak,” peluk eratku.

 

Sebenarnya, Pak-panggilku kepadanya- tak suka dipeluk ketika baru tiba dan merapat ke dermaga setelah pulang melaut. Alasannya sederhana, ia tak ingin bau amis dari badannya menempel di putra kecilnya itu.

Demikianlah pikir Pak Harun, dengan gaya sederhana yang amat mencolok darinya. Tapi rasa rinduku sudah tak bisa dibendung dan itu bukanlah alasan untukku yang masih sering merengek ketika ditinggal melaut olehnya.

“Rembulan dan ibu sudah menunggu di rumah,” jelasku, melepaskan pelukan hangatnya. Dengan jiwa seorang yang menyayangi putra kesayangannya, sebelah tangan kiri memegang ikan hasil melautnya hari ini dan satu tangan kanannya, memegang tangan kecilku dengan erat. Kemudian Pak duduk jongkok tepat di hadapanku yang polos ini

“Jika nanti Pak tidak pulang. Pak titip Mak dan Rembulan ke Laut…,” pintanya yang saat itu tidak ku mengerti sama sekali. Aku masih berumur enam tahun dan baru masuk taman kanak-kanak. Bagaimana aku paham soal ini? “Ayo pulang,” pintanya, senyum manis yang meneduhkan.

*

“Abang Laut cerita. Abang mendapatkan beasiswa perguruan tinggi Pak,” buka bicara si Rembulan, adik kesayanganku yang cantik sekaligus cerewet, dengan kata lain aku sering menyebutnya “ember“. Sedangkan Mak Halimah memberikan secentong nasi ke piring kosong kepadanya, Pak Harun.

“Benarkah?” tanya Pak Harun, wajah berseri-seri ketika mendengar perihal penting itu dari sang adik. Mak hanya terlihat senyum kecil sembari pura-pura tak mengerti. Aku? Kalau boleh jujur saja, sebenar aku ragu untuk mengatakan perihal penting ini kepadanya-terlebih usianya yang kini tak muda lagi- karena antusias darinya, aku tak bisa menolak untuk menjawab pertanyaan itu.

“Benar Pak, aku menerima beasiswa S1 di salah satu universitas negeri di kota,” ucapan yang keluar dari kerongkonganku. Mungkin aku tak bisa berbicara langsung perihal yang sedang aku pikirkan. Tentang keadaan kami.

“Kenapa?” tanya Pak seakan paham akan ekspresiku yang terlihat tak semangat.

“Tidak apa-apa Pak,” sebuah kata yang begitu saja keluar dari mulutku bergetar, Rembulan sibuk dengan acara menyendok sayur lempah-kuning[3] ikan layang-layang yang menurutnya membosankan dan ibu masih diam seribu bahasa yang sebenarnya  ia juga penasaran.

“Ragu? Tentang kita?” jawabnya. Pak menatapku dengan dalam, aku bisa menatap perasaannya yang seakan mengerti dengan kata-kata yang tak terucap dariku ini. Aku tertegun. Aku tidak bisa berpikir tentang ini, apakah ini terlalu egois untukku. Memaksakan keinginan ku untuk bisa mengenal dunia luar? Aku terlalu berambisi untuk itu.

“Laut,” ucapnya matanya sayu dengan senyum kecil di wajahnya yang mulai menua. “Pak akan mendukungmu. Jangan pikirkan soal keadaan kita di rumah.

Pikirkan bagaimana soal keinginanmu saat ini. Kamu sudah cukup dewasa perihal mana yang harus kamu lakukan.” Pak memegang bahu kecilku yang mungil. Aku? Berusaha menahan mataku yang perih. Sial.

“Pak percaya. Anak laki-laki Apak bisa diandalkan. Untuk Pak, Mak dan Rembulan.” Aku hanya menunduk menahan tangis sebisa mungkin, aku terlalu malu terlihat cengeng diantara mereka. Mak memelukku dari belakang memberi puk-puk yang menenangkan hatiku yang entah bagaimana aku menjelaskannya.

*

Perahu motor perlahan meninggalkan dermaga kecil itu pelan-pelan membelah lautan. Mata ku masih tak lepas darinya, sosok figur ayah yang selalu berjiwa tenang dan hangat. Rembulan melambaikan tangan mungilnya-berteriak memanggilku seperti biasanya-bersama Mak melepaskan pergi diriku.

Tentu momen seperti ini adalah hal yang paling sulit bagiku. Karena ini adalah pengalaman pertamaku meninggalkan kampung halamanku dan mereka tentunya. Sayup-sayup, aku melihat Pak mengusap pipinya sambil membuang mukanya ke arah lain agar aku tak bisa melihatnya “Pakku juga bisa menangis ternyata. Dengan berat hati, aku melambaikan tanganku kepada mereka sebagai salam perpisahan.

*

Seminggu lagi, hatiku berdebar-debar tak karuan dan keringat dingin terus saja membuatku tak tenang. Entah ini perasaan senang atau gugup, sebenarnya aku juga tidak tahu. Setelah Jumat lalu aku selesai yudisium, akhirnya tanggal wisuda angkatan ke 67 segera dilaksanakan.

Jujur, aku sangat senang setelah mengetahui bahwa hari wisuda itu sudah dekat. Rasanya tak sabar dengan gelar yang akan segera ku sandang dan berfoto bersama keluargaku. “Pak, sebentar lagi Laut pulang…,” ungkapku, di depan cermin besar. Sepertinya, aku harus melatih senyum diriku agar terlihat ganteng dan menarik saat nanti aku mengambil foto nanti.

Dih. Ganteng amat lu Laut?” kaget si Danara-teman se kos-ku- sambil menepuk-nepuk pundak ku kagum seakan tak percaya.