“Udah cocok belum?” tanyaku, sekalian minta pendapat kepadanya yang kadang-kadang tak perlu. Ini sama seperti meminta jawaban yang salah kepadanya.

“Dah cocok. Cocok jadi pengangguran,” jawabnya, ia tertawa kecil langsung rebahan di kasur.

Sebenarnya, kalau boleh jujur. Rasanya ingin sekali aku menamparnya detik ini juga. Sabar, walaupun aku tahu sebenarnya kesabaranku hanya setipis kertas tisu murahan. Brak! Jurus Ikan pari mengibaskan ekornya menindas ikan lele yang tak bisa berkutik di tengah lautan. Satu pukulan tepat di bahu kanannya. Rasakan itu.

*

Harusnya. Hari ini aku duduk bersebelahan dengan Pak dan Ibu. Duduk rapi menunggu diriku mendapatkan gelar yang hampir empat tahun ini aku perjuangkan. Keinginan atas dasar Pak yang mendukung perjuanganku.

Keringat dan air mata sudah sangat menjadi makananku selama beberapa bulan ini. Sudah tak terhitung seberapa beratnya langkah hari-hariku ke belakang. Tanya saja Danara jika ingin tahu, kita berdua sama-sama stresnya menghadapi semua ini.

Tapi, dunia seakan berkata lain.

Tuhan punya rencana. Dan aku punya takdir.

Malam itu sebelum wisuda adalah hari di mana duniaku seakan runtuh seketika. Gelap dan tak bersuara.  Mendengar suara yang terasa getir seperti guncangan besar yang membuatku patah sejadi-jadinya. Rembulan, menghubungiku. Dan malam itu juga, aku pulang tanpa berpikir apapun tentang hari wisuda besok.

Baca Juga  Mimpi Warisan

Bang, Pak sudah 4 hari tak pulang ke rumah..,” diikuti suara isak tangis yang membuat hatiku retak seketika, suara serak ketakutan itu membuatku lemas tak berdaya. Kabar yang mungkin adalah pesan terakhir bagiku.

*

Tepat hari ini, sudah seminggu lamanya proses pencarian Pak tak membuahkan hasil. Hanya ada kata sabar dan ikhlas yang mampu aku, Mak dan Rembulan terima.

Jika saja Abah tidak pergi melaut hari itu dan mengiyakan saran Rembulan soal mimpi “ombak yang menggulung kapal Pak.” Mungkin, hari ini beliau sedang menikmati kuah asam manis yang enak buatan istrinya, Halimah dan aku serta Rembulan menemani makan malam seperti biasanya.

Mak masih saja menangis ketika harus mengisi piring kosong dengan nasi yang hangat dan segelas kopi hitam pahit masih menguap panas tersaji di meja makan.

Rembulan, yang biasa cerewet perihal masakan lempah-kuning³ lagi dan lagi kini hanya duduk terdiam dengan tatapan kosong. Tentu, ini bukanlah sesuatu yang aku inginkan. Sebagai satu-satunya laki-laki di rumah ini aku berusaha tegar agar kesedihan ini akan segera berlarut.

Baca Juga  Cosmos Abadi di Nagasaki

“Rembulan. Abang masak ikan goreng kesukaanmu. Harus dihabiskan!” mengambil sajian yang sengaja aku buatkan untuknya yang murung.

“Mak, biar Laut saja,” pintaku, karena tak tega melihat wanita tua itu menahan tangis dan tangannya gemetar karena tak punya tenaga lagi. Malam ini. Aku berusaha menjadi anak laki-laki yang tumbuh dewasa yang seperti Pak inginkan.

Aku harus berusaha tegar, tenang dan selalu membuat keluarga ini tetap hidup. Walaupun rumah ini seperti telah kehilangan tiang pasaknya. Pak, kuatkan aku malam ini. Aku mengulum bibirku yang getir berpura-pura aku baik-baik saja.

“Laut. Tenanglah,” teguh-ku menahan getir yang aku rasakan.

*

“Laut,” panggilnya dengan suara getar, Danara datang mengunjungiku. Laki-laki berambut ikal itu datang dengan membawa ijazah yang masih terbungkus plastik bening agar tidak basah.

Matanya sayu kemerahan dan senyumnya terlihat terpaksa lalu menabrakkan dirinya memelukku dengan kuat. Aku merasakan itu, hangat pelukan itu meneduhkan perasaanku.

Baca Juga  Bajak Laut dan Jambul Nanas

Laut, dirimu sekarang tak lebih dari seonggok daging yang kehilangan arah. Kehilangan tujuan hidup dan nafsu duniawi. Hingga waktu yang telah berlalu pun, aku tetap merasakan hari yang masih terasa sama.

Aku kehilangan sosok figur dalam kehidupanku. Pak, dulu aku sempat terlalu malu untuk menyatakan “aku merindukanmu” atau “aku bangga padamu. Dan kini, setiap detiknya dalam hidupku aku sangat merindukanmu dan pesanmu itu terasa berat di pundak kecilku.

***

SUDI SETIAWAN, adalah penulis kelahiran Bangka, Fresh Graduate S1 Manajemen di Universitas Bangka Belitung. Karya cerita pendeknya yang berjudul Marthapram (2022) telah dibukukan dalam Antologi Cerita Pendek Pulpen Saya Jilid II, Pohon Permintaan (2023) di terbit di Harian Kompas, dan pemenang sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjudul Ketupat Raksasa di Bukit Nenek (2023)

[1] Perahu tradisional masyarakat pesisir pulau Belitung dan sekitarnya

[2] Desa Celagen-Kepulauan Pongok adalah gugusan pulau kecil di antara selat Gaspar yang memisahkan pulau Bangka dan pulau Belitung

[3] Lempah-kuning adalah kuliner khas Bangka Belitung