Karya: Nurul Janah Gustina

Sudah 2 bulan aku menghitung hari. Satu minggu lagi aku mencapai hari itu.

Satu minggu lagi tepat 9 Agustus 1945, di pinggiran kota Nagasaki, Jepang.

Di sebuah toko kue cantik dan harum yang selalu memikat panca indera ketika lewat jalan itu. Di tempat favorit kami, juga tempat pertama kali aku bertemu dengan belahan jiwa ini.

Hari-hari berlalu seiring aku mengingat masa lalu. Ketika ia memesan kue-kue manis kesukaan kami.

Melihat ia tersenyum, hampa sudah rasa kue manis yang kugigit kecil saat itu. Telah kalah rasa manis kue itu dengan senyumannya yang terbit setiap hari di sanubari.

Tawanya, etikanya, jari-jari lentiknya yang kian hari kian sempurna kupandang saat itu. Tak lupa juga kue kue cantik dan manis bertabur buah serta berbagai toping sebagai perantara cinta kami.

Hingga ia ditugaskan, masihlah manis lidahku bekas kue pemberiannya.

Aih, sabar Hima, masih dua hari lagi, dua hari lagi kau akan bertemu dengannya.

Sungguh lama rasanya 48 jam tersisa itu. Sedang kurangkai bunga-bunga cantik untuk kukalungkan di lehernya saat dia pulang nanti.

Sedang kupelajari juga buku resep kue-kue kecil yang menjadi calon suguhan ku nanti.

Agar pertemuan yang telah lama tertunda kali ini menjadi lebih spesial.

Baca Juga  Hukum di Akhir Zaman

“Sudah senang sekali putri kita, Anata. Pria nya akan pulang esok,” goda Ibuku di meja makan. Ayahku terkekeh senang.

“Ayah lihat sudah tergantung di kamarnya rangkaian bunga kesukaan Tarou, loh,” Ayah ikut-ikutan menggodaku. Pipiku kian memerah bak kepiting rebus. Kurapikan poniku berulang kali. Salah tingkah.

Otōsan1 jangan ikut ikutan dong! Hima kan, jadi malu,” kataku tersipu. Senyum tertera di wajahku yang masih memerah.

Aduh duh, makan malam ini kian membuatku semakin merindu dengannya. Untungnya, Otōsan dan Okāsan2 tidak menggodaku lagi setelah makan malam, walau terkadang mengering jahil ketika kau mulai tersenyum senyum mengingat hari esok.

Oh, Kami-sama3, semoga Tarou selamat, semoga kami bertemu esok hari.

Esoknya aku dibangunkan oleh Mochi, kucing kesayanganku. Juga mentari pagi, yang setiap hari setia menyapa jendela kamarku.

Mimpiku sangat indah malam tadi, walau sedikit aneh. Aku bertemu Tarou, itu bahagaianya, namun pertemuan kami juga dirayakan kembang api yang luar biasa besar, paling besar kulihat seumur hidupku.

Saking besarnya hingga aku menutup mataku karena silau. Baru kemudian aku terbangun.

Sudah jam 08.00. Aku melihat cermin yang entah sudah keberapa kalinya.

Merapikan baju, atau poni yang sama sekali tak berantakan, atau memikirkan apakah bajuku cocok atau tidak hari ini.

Baca Juga  Bimantara Gulita

Keranjang kue dan karangan bunga sudah kusiapkan. Kain penutup atasnya sudah kubuat serasi dengan gaunku hari ini. Berwarna biru muda, hampir putih.

Dengan sulaman bunga cosmos4 di pinggirannya, bunga kesukaan Tarou dan aku.

Okāsan, Ohayō5,” ucapku ketika melihat ibu yang sedang membereskan meja makan.

Ohayō, Hima. Sudah mau berangkat, ya?” kata ibuku, sengaja tak menawariku karena memang biasanya sarapanku jam 9 atau sepuluh. Aku mengangguk membalasnya.

Ganbatte ne6, tapi bolehkah Okāsan minta pelukan darimu hari ini? Rasanya kamu akan pergi lama dari rumah.”

Aku tertawa, “Paling lama aku akan kembali sore, Okāsan. Tapi tak apa, untuk Okāsan tersayanggg.” kataku sambil memeluk ibuku, tak lama kakiku di elus oleh Mochi, aku tertawa. Mungkin dia juga ingin berpelukan, jarang sekali ia manja begitu. Apakah hari ini hari pelukan sedunia?

“Okey, aku pergi dulu ya- eh! Mochi? Ada apa?”

Aku terkejut. Mochi seakan melarangku untuk melangkah keluar dari pintu. Aku mengisinya beberapa saat, mungkin dia sedang manja hari ini.

“Aduh Chi-chan, aku tidak bisa bawa kamu hari ini. Aku akan naik kereta untuk ke Nagasaki. Kau, kan mabuk darat kalau naik kereta, Mochi,” kataku sambil menggodanya.

Baca Juga  Dicegat Tuyul

Ia mengeong. Matanya semakin besar saja, semakin lucu. Tapi, kenapa seperti menatapku sedih sekali? Ada apa dengan Mochi?

Aku melihat jam di pergelangan tanganku, sudah setengah sembilan pagi. Hampir terlambat.

“Duh, Mochi. Kamu tunggu di rumah ya, nanti aku belikan cemilan kucing kesukaanmu itu. Aku pergi duluu.”

Dia mengikutiku sampai luar rumah, mengeong nyaring. Aku melambai padanya, berpamitan. Dia mengeong lagi. Aktif sekali dia hari ini.

Sampai di stasiun, aku kaget karena Mochi mengikutiku. Mungkin dia sangat ingin ikut. Jadi aku gendong ia sepanjang saku naik kereta.

Tidak seperti biasanya, iaebih manja, lebih kalem dan tidak bertingkah rempong. Hanya diam di pelukanku sembari menatapku dengan mata besar berairnya, sungguh lucu. Entah sudah berapa kali aku mengecupnya gemas.

Akhirnya sampai. Toko kue itu sudah terlihat. Memang lebih sepi saat pagi daripada saat siang atau sore. Bel toko kue cantik itu berbunyi ketika aku membuka pintu.

Itterasshai7

.

Aku mengangguk dan tersenyum. Sudah hapal dengan penjaga tokonya. Aku mengambil tempat duduk favorit kami, dekat jendela pinggir jalan.

Juga dekat etalase kue-kue cantik dan harum itu. Mochi kuletakkan di sampingku, tapi ia kembali merangsek naik ke pangkuanku. Tak apalah, aku juga suka memangkunya. Hangat.