Jantungku kembali berdebar menunggu belahan jiwa yang tak kunjung tampak bibir manisnya. Namun tak berselang lama, akhirnya bel pintu toko berbunyi lagi.

Sepersekian detik aku menoleh dan berharap itu dia. Ternyata benar, itu dia.

Dia yang selama ini kutunggu kepulangannya. Dia yang selama ini memakai cincin tunangan di jari manisnya. Dia yang selama ini kuharapkan kedatangannya.

“Hima-chan.” Suara baritonnya memanggilku lirih. Rasanya aku mimpi, rasanya aku ingin ini nyata. Susah dijelaskan dengan kata-kata. Aku terperangah, diam. Menatap lurus ke wajah yang kuingat selalu di setiap matahari terbit, di sanubari, dalam mimpi-mimpi.

Kian lah kami melepas rindu di toko kue itu. Seperti biasanya dia mengambilkannku kue kue manis terbaik menurutnya.

Dengan senang hati pula aku makan. Mochi juga mengeong pelan, kubagi beberapa yang dia suka.

Tak lama, kami pergi ke taman. Duduk di rerumputan dikelilingi bunga cosmos kesukaannya, duduk disamping Tarou yang masih mengenakan seragam dinasnya. Memakan kue buatanku.

“Hei, ini kue terenak yang pernah kumakan,” katanya. Pandai sekali dia membuatku tersipu.

“Hima, kau selalu cantik. Malah lebih cantik lagi hari ini. Aku sangat suka. Gaunnya cocok untukmu,” katanya lagi. Aku hanya bisa tersenyum, malu dan senang bercampur. Kembali aku merapikan poni depanku.

Kami memandang kejauhan, tampak hamparan langit yang cerah hari itu dilewati beberapa pesawat yang hilir mudik.

Aku terpana melihat pesawat yang sedikit berbeda itu. Bagus sekali gerakannya.

“Tarou, pesawatnya bagus. Apakah angkatan udara sedang latihan?” tanyaku. Tapi Tarou menggeleng,” entahlah. Baru kali ini aku lihat pesawat itu,” katanya.

Baca Juga  Kaban Limpai

Akupun bercerita tentang mimpiku yang dirayakan oleh kembang api terbesar yang pernah kulihat. Tentang jeritan orang dan betapa silaunya cahaya kembang api itu. Tarou selalu tersenyum menanggapi aku bercerita. Mochi juga setia di pangkuanku. Setia menatapku.

Belum habis kami berbincang melepas rindu, terdengar suara ledakan di kejauhan. Telingaku sakit. Kami refleks melihat ke arah sumber suara di kejauhan, tengah kota Nagasaki. Aku menutup mulutku yang terbuka, terperangah.

“Kembang apinya! Tarou! Itu kembang apinya!” kataku terpesona.

“Tidak! Jangan lihat Hima, ayo lari. Itu bencana. Pesawat tadi milik Sekutu! Itu bukan kembang api! Itu BOM!”

Kami lari, lari sejauh jauhnya dari taman itu, menuju toko kue. Berharap bisa berlindung dari ledakan besar itu. Panasnya api sudah terasa membakar di kulitku. Mochi tetap setia dipelukanku, mengeong sedih.

“Mochi!” kataku.

“Lari, Mochi! Lari!” Dia semakin mengeong sedih. Mengaitkan cakarnya ke gaunku semakin erat. Tak ingin berpisah. Tanganku digenggam Tarou, air mataku menetes. Aku takut sekali.

Kami-sama

, tolong selamatkan kami!

Sekarang aku mengerti. Mimpi itu bukan tentang perayaan kembang api. Aku juga mengerti meong sedih Mochi.

Juga pelukan yang Okāsan minta. Aku menyesal, aku menyesal, bahkan aku belum bertemu Otōsan hari ini. Otōsan maafkan aku. Tarou, kuharap kamu selamat!

Aku mendorong Tarou masuk ke terowongan basement di sebelah toko roti.

Baca Juga  Hikayat Sungai Rangkui

Mochi takbisa kulepaskan. Dia semakin mengeong kesakitan aku lebih sakit mendengarnya.

“Hima!”

“Masuk Toro! Masuk!”

“Tidak jika tidak bersamamu!”

Akhirnya Toro hanya masuk lebih dalam ke basement, aku terbaring separuh di dalam basement, separuh di terowongan. Mochi kulemparkan ke depan, dia mendarat di samping Tarou. Sedikit di atas kepalanya. Ia mengeong, aduh. Mochi! Tarou! Okāsan! Otōsan!

Hal terakhir yang kuingat ialah rangkaian bunga cosmos yang menyatukan tangan kami. Setelahnya pandanganku gelap total.

 25 tahun kemudian, di panti asuhan korban Bom Atom.

Sekelompok anak muda kembali berkunjung ke panti itu. Membawa makanan dan minuman. Tak segan juga membantu petugas merawat lansia korban pemboman 25 tahun silam. Walau sangat sedikit anak muda yang tidak berdesis atau mengeluarkan wajah takut ketika melihat korban yang  tubuhnya sudah tak lengkap. Atau bermutasi. Atau hancur.

Salah satu anak-anak muda itu ialah Sekatani Jun. Ia tidak memiliki rasa ingin tahu tinggi sampai ia menemukan sepasang kekasih yang sudah tua renta yang duduk dengan senyum terpatri sembari memegang rangkaian bunga cosmos, ditemani kucing yang sebagian kulitnya mengelupas, sebagian lagi tak menumbuhkan bulu.

Tergelitik pikirannya untuk sekedar ingin tahu tentang pasangan renta itu. Kakek-kakek yang masih setia walau yang satu tak lagi bisa melihat.

Yang masih tetap tersenyum walau sudah tak lengkap. Yang senantiasa saling memegang rangkaian bunga cosmos di tengah.

Pun dengan nenek-nenek yang senantiasa memangku kucingnya di satu-satunya bagian kaki yang terselamatkan, paha.

Baca Juga  3 Film Dengan Unsur Puitis yang Bisa Bikin Luluh

Juga dengan cincin di jari manis yang tak pernah dilepas walau sudah pernah hampir memutuskan jari manis mereka.

“Mereka sepasang angsa yang tak pernah luntur oleh usia, Jun. Tak ada yang mengenali mereka di sekitar sini. Pun dari daerah lain. Satu satunya yang selamat ialah mereka, di sekitar lokasi toko kue manis yang telah rata. Jika saja bukan karena gaun wanita yang masih sedikit memantulkan cahaya walau sebagian besarnya gosong. Mungkin mereka benar-benar pergi ke hadapan Yama8 dengan kedua tangan mereka saling berpegangan pada rangkaian bunga cosmos. Yang pastinya sudah layu terkena panas. 1 kucing di sampinya itu beruntung sekali tetap selamat karena ia masuk ke bagian paling dalam basement. Sepertinya wanita itu mendorong kucing dan pria itu,” kata salah satu petugas.

“Bagaimana dengan nama? Apakah mereka masih mengingatnya?” tanya Sekatani Jun lagi.

“Awalnya masih terdengar jelas mereka saling memanggil Tarou dan Hima. Sekarang kau hanya mendengar Rou dan Ma. Juga senyuman yang tak pernah pudar di wajah keduanya yang setengah terbakar itu.”

“Yang satu tak bisa mendengar, satunya tak bisa melihat. Beruntung sang pria masih memiliki satu lengan sebagai tempat sang wanita menorehkan aksara. Rangkaian cosmos adalah lambang cinta mereka. Bahkan gaun wanita itu masih terlihat berpola cosmos ketika ditemukan.”

Catatan kaki:

  1. Otōsan
  2. Okāsan
  3. Cosmos
  4. Ohayō
  5. Ganbatte be
  6. Itterasshai
  7. Kami-sama
  8. Yama