Oleh: Aqila Aliya Chandra

Di persimpangan itu, aku kembali
tempat yang dulu bernapas dengan tawa,
kini hanya bergema oleh sunyi yang menua.
Segalanya masih sama
namun tak ada yang benar-benar tinggal
Langitnya masih menggantung lembut
tapi cahaya terasa jauh, seolah enggan menyapa.
Yang dulu hangat kini hanya bayang, mengendap dalam udara,
menyusup pelan ke dalam dada yang tak lagi lengkap.

Aku menapak di tanah yang mengenal langkahku
namun tak mengenal hatiku yang kini asing
Setiap sudut berbisik
bukan dengan kata, melainkan dengan diam yang menyalakan luka.
Ada kursi yang tetap di sana,
namun tak ada lagi suara yang mengisinya.
Ada pintu yang masih terbuka,
namun tak ada yang memanggil dari baliknya.
Oh, betapa beratnya kenangan
yang memilih tinggal ketika semua telah pergi.

Baca Juga  Kepala Sekolahku (bagian 2)