Karya: Navis Sabilillah

Mengejar impian itu bukan seperti pesawat sekali terbang langsung sampai tujuan.

Tidak ada kesuksesan yang instan, ada banyak proses yang harus kita lalui.

Banyak waktu, tenaga, pikiran yang harus kita habiskan untuk meraih impian kita.

Dan saat ini aku tidak dapat membedakan pura-pura kuat atau memang benar-benar kuat.

Karena sepertinya semua yang dilakukan saat ini memang sebuah keterpaksaan yang lama kelamaan menjadi kebiasaan.

Salah satunya harus terbiasa menyembunyikan luka, sampai pada akhirnya dengan perlahan sakitnya mulai tidak berasa.

Dan dipaksa kuat sampai semua rasa kekecewaan sudah mulai bersahabat.

Di depan kelas Diva sendirian, sambil melamun seperti orang yang banyak masalah.

Teman-temannya sibuk bermain, tertawa, bercerita dan sambil memakan cemilan.

Seorang temannya Sella dan Anisa menghampiri Diva yang sedang sendiri.

“Heyy Div, kamu kenapa kok melamun terus. Ayo dong kumpul sini cerita kalau kamu ada masalah. Jangan melamun terus biar kami bantu meringankan masalah kamu, ” ujar Sella sambil memandang wajah Diva.

Baca Juga  Suara di Rumah

“Iya Div, jangan malu-malu kalau mau cerita,” kata Anisa sambil merangkul diva.

“Iya, aku seperti ini karena aku belum menerima kenyataan kalau aku sekolah di sini. Aku ingin SMA yang aku impikan selama ini. Tetapi, hasilnya selalu gagal, aku kecewa, aku hancur dan berkali kali aku gagal Sella, Anisa, ” jawabnya dengan tetesan air yang jatuh membasahi pipinya.

“Paham kok rasanya gagal di satu mimpi yang tidak bisa dijelasin gimana sakitnya. Padahal kita udah naruh ekspetasi lebih di situ. Nangis saja, kecewa juga boleh. Marah pun rasanya harus banget. Ya kan Nisa,” sambung Sella sambil menatap wajah Diva sembari memberikan senyuman.

“Iya benar Div, tapi janji jangan lama lama ya, mimpi tidak berhenti di situ. gagal juga tidak di temui sekali doang. Nanti masih banyak banget gagal yang harus kamu hadapin. Tetap semangat ya jangan menyerah,” ujar anisa sambil mengedipkan satu mata dan mengangkat kedua tangan jempolnya.

Baca Juga  Si Malang

“Kamu di sini kan ada kita berdua Div, kamu tidak akan sendirian kok,” ujar sella.

Sejenak, Diva menghapuskan air mata yang jatuh dipipinya.

“Aku lelah Sella, Anisa apa yang aku lakukan dan apa yang aku usahakan selalu gagal. Sedangkan aku sudah terus berusaha dan berdoa. Aku harus bagaimana, semua yang aku usahakan, yang aku impikan pasti akan gagal dan terus gagal. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali aku gagal aku capek Sel, Nis,” jawab Diva dengan tangisan sesegukan.

“Gagal hari ini bukanlah akhir. Gagal hari ini bukan berarti masa depan ikut berakhir. Aku tahu, kau telah muak dengan kalimat-kalimat semangat yang kau temukan. Kau muak dengan pertanyaan yang tak ingin kau jawab. Kau muak dengan ekspetasimu sendiri yang tak berjalan baik. Aku tahu, tidak ada yang mengerti dirimu sebaik dirimu sendiri,” kata Sella.

Baca Juga  Jejak Rindu

“Kau yang tahu seberapa besar usahamu. Kau yang tahu seberapa banyak doa yang kau panjatkan. Kau yang tahu seberapa kecewanya dirimu dengan hasil hari ini. Tak apa, Semua itu tidak sia-sia. Rasakan, rasa sedihmu hari ini. Luapkan semuanya hari ini. Lalu, ingatlah kembali masih ada jalan lain,” tambahnya.

“Jalanmu tak harus sama dengan mereka. Kau masih punya kesempatan, harapan, dan doa yang tak pernah ada batasnya. Jadi perlahan, cobalah bangkit. Meski sulit, tapi coba pertanyakan lagi ke dirimu sendiri,” Sella berusaha menasihat sambil mengusap punggung Diva.

Diva merasa sedikit lega. Perlahan Diva menghapuskan air matanya lagi.

Tetapi, air matanya tetap terus mengalir. Sesakit, sepatah, dan sekecewa itukah yang dirasakan diva.