Mentari Redup
*
Rania Almahira, Di usianya yang baru menginjak 13 Tahun ia mengidap kanker otak stadium 3. Ia mengetahui hal tersebut saat menginjak kelas 4 SD.
Ternyata, Kanker tersebut ia dapatkan karena faktor turunan dari ayahnya yang juga meninggal karena kanker otak.
Perlahan, Rania menyisir rambutnya yang panjang. Beberapa helai rambutnya rontok, sebagian menyangkut di sisir dan beberapa helai lainnya jatuh ke lantai.
Ia menghela nafasnya pelan. Di belakangnya Santi mengelus rambutnya.
“Enggak apa-apa sayang, rambutkan bisa tumbuh lagi. Inikan biasa kalau sedang menjalankan kemoterapi,” ujar Santi, ia mengulurkan tangannya yang berisi beberapa pil obat.
“Diminum, ibu mau ke dapur dulu.”
Rania hanya menganggukkan kepalanya. Ia memandangi 4 pil di tangannya. Menutup mata sejenak, kemudian dengan perlahan Rania membuang pil obat tersebut ke dalam tong sampah.
*
“Oke adik-adik, Itulah alasan mengapa kita harus bersyukur. Dengan kita bersyukur, artinya kita berterima kasih kepada Allah atas semua nikmat yang telah Allah berikan. Ada yang ingin bertanya?” tanya Anggi.
“Kak, apakah saat diri kita terkena musibah, Kita harus tetap bersyukur?” tanya Rania sambil mengangkat tangan kanannya.
“Pertanyaan bagus Rania. Kita harus tetap bersyukur di saat kita sedang terkena musibah. Mengapa? Karena artinya Allah sayang dengan kita. Kita harus percaya, bahwa di balik cobaan yang telah Allah berikan terdapat hikmah yang Allah selipkan,” jawab Anggi sambil tersenyum.
Kemudian Anggi melanjutkan lagi materi tentang bersyukur kepada anak-anak lain. Sedangkan Rania nampak melamun dengan wajah memandangi pemandangan luar lewat jendela kelasnya.
Jam pulang sekolah pun tiba, Rania berjalan menuju parkiran sepedanya bersama Rini.
“Kamu enggak main di lapangan entar Ran?” Tanya Rini yang berjalan di samping Rania.
“Akhir-akhir ini kepalaku sering sakit Rin. Kayaknya lain kali aja ya,” ujar Rania yang nampak pucat.
“Kamu pucat banget deh Ran, kamu istirahat aja di rumah. Jangan kecapean,” ujar Rini khawatir sambil mengelus pundak Rania.
“Terima kasih Rin, Aku beruntung punya sahabat kayak kamu. Jangan pernah lupain aku ya Rin,” ujar Rania sambil memeluk Rini erat.
*
Ini sudah yang kedua minggunya Rania membuang obat yang seharusnya dia minum. Hari ini jadwalnya ia kemoterapi. Tetapi Rania memilih kabur dari rumahnya menuju ke sekolah. Santi tak mengetahui jika anak semata wayangnya telah pergi dari rumah.
Rania berjalan dengan setengah berlarian menuju sekolahnya. Tak terpikirkan lagi oleh dirinya jika ia memiliki sepeda. Yang penting ia bisa sampai sekolah dan tidak menjalani kemoterapi. Bibirnya nampak pucat, keringat bercucuran mengalir ke pipinya.
Rania dapat melihat gerbang sekolahnya masih terbuka lebar. Ia semakin bersemangat berlari menuju sekolahnya.
Tepat di depan gerbang, ia menghentikan larinya. Rania nampak ngos-ngosan habis berlari. Ia memegangi perutnya, Wajahnya nampak semakin pucat. Hingga akhirnya Rania terjatuh pingsan tepat di depan gerbang sekolahnya.
*
“Seperti yang sudah kami beritahukan Ibu, keadaan Rania semakin hari semakin buruk. Sepertinya, Harapan Rania untuk bertahan hidup sangat kecil Bu. Saya hanya dokter yang berusaha, tetapi tetap Allah yang mengatur segalanya,”
Santi mengingat perkataan dokter kepadanya. Terlihat Rania terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Terdapat banyak alat-alat kesehatan yang entah Santi tak tau namanya terpasang di tubuh putrinya. Ia hanya bisa menangis sambil mengelus rambut putrinya yang mulai menipis.
“Bu, Rania capek,” lirih Rania dengan suara yang parau.
“Rania istirahat ya, tapi jangan tidur. Ibu takut kalau Rania enggak bangun lagi,” ujar Santi menahan tangisnya.
“Rania cuma tidur sebentar aja Bu, ibu jangan khawatir ya,” pinta Rania lagi.
“Ya udah, tapi janji sama Ibu nanti bangun lagi ya.”
“Iya.”
Rania mulai perlahan menutup kedua matanya. Dengan jantung berdebar kencang, Santi memegangi tangan Rania.
Hari sudah semakin larut, Rania tak kunjung bangun. Santi begitu khawatir dengan kondisi anaknya. Ingin membangunkan namun hatinya tak tega.
Namun tiba-tiba ada pergerakan dari mata Rania. Perlahan ia membuka matanya. Santi menghela napasnya lega.
“Bu, Rania haus,” Rania berujar lirih.
Santi langsung mengambil air minum untuk Rania.
“Istirahat lagi ya sayang,” ujar Santi sambil membantu Rania minum.
“Bu, Rania kangen ayah,” ucap Rania setelah air minum di gelasnya kandas. “Tadi Rania mimpi ketemu ayah,” lanjutnya.
Santi meneteskan air matanya. Ia mencium kening Rania lembut.
“Rania kangen ayah?” tanya Santi.
“Iya Bu, Rania pengen ketemu ayah. Rania pengen cerita sama ayah, kalau Rania capek sakit terus.”
Santi memeluk Rania erat. Air Matanya membasahi rambut putrinya. Rania membalas pelukan ibunya tak kalah erat.
“Kalau kamu lelah, Kamu boleh istirahat sayang,” ujar Santi masih dengan memeluk Rania. “Istirahat yang tenang sayang, kalau kamu memang lelah dengan rasa sakit di dunia ini. Ibu in syaa Allah ikhlas,” lanjutnya dalam hati.
“Makasih Ibu,” ujar Rania dengan perlahan menutup matanya.
Sekitar sepuluh menit masih dengan posisi saling berpelukan. Perlahan, pelukan Rania mulai mengendur. Santi tak merasakan lagi putrinya menghembuskan napasnya.
Ia hanya bisa menangis dan mencium kening Rania berkali-kali. Perlahan, ia membaringkan tubuh putrinya yang mulai mendingin dan lemas di ranjang.
“Innalilahi wa innailaihi rojiun. Kamu sudah tidak lagi merasakan rasa sakit sayang. Ibu bersyukur kamu sudah mau bertahan selama ini. Terima kasih sayang,” ujar Santi mengecup kening putrinya sambil menahan tangisnya.
Selesai
Khoiriah Apriza, siswi SMAN 1 Airgegas. Penulis buku cerpen “Ayah, Aku Rindu”. Karyanya sudah beberapa kali terbit dalam buku antologi.
