Keinginan untuk menghilangkan nikmat orang lain bisa muncul tanpa disadari. Penyakit hati seperti ini berbahaya dan dapat merusak diri sendiri serta hubungan dengan sesama. Dalam Islam, beberapa penyakit hati yang harus dihindari antara lain:

  1. Hasad (iri dan dengki): Merasa tidak senang dengan nikmat orang lain dan menginginkan nikmat itu hilang.
  2. Sombong (takabur): Merasa lebih tinggi dari orang lain dan menolak kebenaran.
  3. Riya’ dan ujub: Beramal bukan karena Allah, tetapi demi pujian atau merasa dirinya lebih baik dari orang lain.
  4. Keras hati: Sulit menerima nasihat dan cenderung lalai dari mengingat Allah.

Sebagaimana disebutkan dalam hadis Arbain:

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ

“أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ.”

(HR. Bukhari No. 52, Muslim No. 1599)

Baca Juga  6 Lafal Niat Puasa Ramadhan dan Waktu Pelaksanaannya

“Ketahuilah! Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.”

Dari hadis ini, kita bisa memahami bahwa hati adalah pusat kebaikan dan keburukan. Jika hati bersih dari penyakit seperti iri, dengki, dan sombong, maka amal dan perbuatan seseorang akan baik. Sebaliknya, jika hati dipenuhi keburukan, maka seluruh aspek kehidupan pun akan tercemar.

Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa sadar kita sering mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Misalnya, ketika melihat saudara atau teman memiliki harta lebih atau usaha yang sukses, kita berkata, “Enak ya mereka punya banyak uang, mereka bisa beli mobil baru, beli motor baru, beli rumah baru. Mungkin uangnya didapat dari  hasil pesugihan, mencuri atau korupsi.”

Ucapan seperti ini adalah bentuk gunjingan yang bisa menjadi dosa. Lebih baik kita berkata, “Semoga saya juga bisa mendapat rezeki dan usaha yang sukses seperti mereka.” Karena kita tidak pernah tahu usaha dan doa orang lain agar bisa mencapai semua itu. selalu berpikir positif kepada siapapun, dan saling mendoakan kebaikan untuk orang lain.

Contoh lain, kita sering bertanya kepada seseorang tanpa mempertimbangkan perasaannya, seperti:

  • “Kapan menikah? Teman-teman sebayamu sudah punya anak.”
  • “Belum hamil juga?”
  • “Kapan mau tambah anak lagi?”
  • “Anaknya banyak gak keurus lagi ya?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini terdengar sepele, tetapi bisa menyakiti perasaan orang lain. Kita tidak pernah tahu ujian apa yang sedang mereka hadapi. Ada yang diuji dengan sulitnya mendapat jodoh, ada yang sudah menikah tetapi belum dikaruniai anak, ada yang memiliki banyak anak tetapi menghadapi kesulitan ekonomi, dan sebagainya.

Baca Juga  Membaca Ulang Kisah Nabi Yusuf (Bagian 4): Rumah yang Menumbuhkan Rasa

Oleh karena itu, kita harus lebih berhati-hati dalam berbicara. Jika tidak ada kata-kata yang baik untuk diucapkan, lebih baik diam. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga kita semua dapat menjaga hati, pikiran, dan lisan agar terhindar dari penyakit hati dan dosa lisan. Aamiin.

Penulis merupakan pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Bangka Selatan.