Efek Brainrot di Era Digital
Dalam konteks birokrasi, hal ini berdampak pada lambatnya penyelesaian dokumen administratif atau kesalahan input data. Contoh riil terlihat di Indonesia, dimana pegawai pemerintah menghabiskan rata-rata 5,7 jam per hari menggunakan gawai, sebagian besar untuk aktivitas non-produktif seperti scrolling media sosial (Waspada Brain Rot, Ancaman Akibat Konsumsi Konten Online Kualitas Rendah secara Berlebihan. Dinas Komunikasi Kota Cirebon, 2025).
2. Gangguan Pengambilan Keputusan
Studi neuroimaging oleh Moshel et al. (2023) menemukan bahwa penggunaan internet berlebihan mengurangi volume materi abu-abu di korteks prefrontal—area otak yang bertanggungjawab atas penalaran dan pengambilan keputusan (The effects of ‘brain rot’: How junk content is damaging our minds. EL PAÍS, 2024). Dalam organisasi pemerintah, hal ini dapat memicu keputusan impulsif, seperti penerapan kebijakan tanpa analisis mendalam.
3. Dampak pada Kesehatan Mental Pegawai
Laporan RS Marzoeki Mahdi (2025) mengidentifikasi gejala brainrot seperti kecemasan, burnout digital, dan penurunan motivasi di kalangan pegawai yang terpapar media sosial tanpa batas (Brain Rot: Fenomena Media Sosial yang Mengancam Kesehatan Mental. RSMM Bogor, 2025). Fenomena ini diperburuk oleh budaya always-on di era digital, dimana pegawai merasa wajib merespons pesan kerja bahkan di luar jam kantor.
4. Risiko Keamanan Siber
Kebiasaan mengonsumsi konten tidak jelas di media sosial meningkatkan kerentanan terhadap phishing atau misinformasi. Studi di ANTARA News (2025) mencatat bahwa 60% serangan siber di instansi pemerintah Indonesia berasal dari kelalaian pegawai dalam membedakan informasi valid dan hoaks (Menjelajahi fenomena ‘Brain Rot’ di era digital. ANTARA News, 2025).
Strategi Mitigasi
1. Digital Detox Terstruktur
Newport Institute (2024) merekomendasikan digital detox periodik, seperti menonaktifkan notifikasi setelah jam kerja dan menghapus aplikasi pengganggu (Brain Rot: The Impact on Young Adult Mental Health. Newport Institute, 2024).
Pemerintah Kota Cirebon telah menerapkan “Jumat Bebas Gawai” untuk memulihkan fokus pegawai (Waspada Brain Rot, Ancaman Akibat Konsumsi Konten Online Kualitas Rendah secara Berlebihan. Dinas Komunikasi Kota Cirebon, 2025).
2. Pelatihan Literasi Digital
Kurikulum pelatihan harus mencakup manajemen waktu layar dan pemilihan konten edukatif. Kelas Digital Government di UGM, misalnya, mengajarkan penggunaan teknologi untuk efisiensi administrasi tanpa terganggu brainrot (Pemerintah dan Revolusi Digital: Mengapa Perhatian Terhadap Sistem Digital Sangat Penting? UGM Online, 2024).
3. Kebijakan Penggunaan Teknologi Berbasis Bukti
Pemerintah perlu menerapkan panduan screen time maksimal 4 jam/hari untuk dewasa (diluar kebutuhan kerja) (Waspada Brain Rot, Ancaman Akibat Konsumsi Konten Online Kualitas Rendah secara Berlebihan. Dinas Komunikasi Kota Cirebon, 2025). Contoh sukses terlihat di Prancis, dimana undang-undang “Right to Disconnect” melarang pengiriman email kerja di luar jam kantor.
- Penguatan Infrastruktur Digital
Peningkatan kualitas platform internal (e.g., e-office) dapat mengurangi ketergantungan pada media sosial eksternal. Studi di PMC (2020) menekankan pentingnya desain antarmuka yang minim distraksi (The impact of the digital revolution on human brain and behavior. PMC, 2020).
Penutup
Brainrot bukan sekadar masalah individu, tetapi ancaman sistemik bagi efektivitas organisasi pemerintah. Kombinasi teori neurosains, psikologi, dan sosiologi memperkuat temuan bahwa kebiasaan digital tidak sehat mengikis kapasitas kognitif dan emosional pegawai.
Solusi holistik—mulai dari kebijakan hingga perubahan budaya kerja—diperlukan untuk menciptakan lingkungan digital yang berkelanjutan. Tanpa intervensi, risiko penurunan kualitas layanan publik dan krisis kesehatan mental akan semakin mengemuka.
Daftar Pustaka
- “The impact of the digital revolution on human brain and behavior.” PMC, 2020. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7366944/ (Diakses 13 April 2025).
- “The effects of ‘brain rot’: How junk content is damaging our minds.” EL PAÍS, 2024. https://english.elpais.com/ (Diakses 13 April 2025).
- “Pemerintah dan Revolusi Digital: Mengapa Perhatian Terhadap Sistem Digital Sangat Penting?” UGM Online, 2024. https://mooc.ugm.ac.id/ (Diakses 13 April 2025).
- “Oxford Word Of The Year, ‘Brain Rot,’ Defines Our Screen-Fixated Times.” Forbes, 2024. https://www.forbes.com/ (Diakses 13 April 2025).
- “Brain Rot: The Impact on Young Adult Mental Health.” Newport Institute, 2024. https://www.newportinstitute.com/ (Diakses 13 April 2025).
- “Arti Kata ‘Brainrot’ dan Pengaruh Bahayanya kepada Anak Muda.” Kompasiana, 2024. https://www.kompasiana.com/ (Diakses 13 April 2025).
- “Demystifying the New Dilemma of Brain Rot in the Digital Era.” PMC, 2025. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11939997/ (Diakses 13 April 2025).
- “Waspada Brain Rot, Ancaman Akibat Konsumsi Konten Online Kualitas Rendah secara Berlebihan.” Dinas Komunikasi Kota Cirebon, 2025. https://dkis.cirebonkota.go.id/ (Diakses 13 April 2025).
- “Menjelajahi fenomena ‘Brain Rot’ di era digital.” ANTARA News, 2025. https://www.antaranews.com/ (Diakses 13 April 2025).
- “Brain Rot: Fenomena Media Sosial yang Mengancam Kesehatan Mental.” RSMM Bogor, 2025. https://rsmmbogor.com/ (Diakses 13 April 2025).
Hendrawan merupakan penulis yang tinggal di Kabupaten Bangka Selatan.
