Intoleransi dalam Satuan Pendidikan dan Solusinya
Unsur tersebut adalah sebagai berikut:
- Memberikan kebebasan dan kemerdekaan
Setiap manusia diberikan kebebasan untuk berbuat, bergerak maupun berkehendak, menurut dirinya sendiri dan juga dalam memilih Agama atau kepercayaan. Kebebasan ini diberikan sejak lahir sampai ia meninggal, dan kebebasan atau kemerdekaan yang manusia miliki ini tidak dapat digantikan atau direbut oleh orang lain.
- Mengakui hak setiap orang
Suatu sikap mental yang mengakui hak setiap orang di dalam menentukan sikap perilaku dan nasibnya sendiri. Hal ini tentunya tidak melanggar hak orang lain. Jika demikian ini terjadi maka akan menimbulkan kekacauan
- Menghormati keyakinan orang lain
Dalam konteks ini, diberlakukan bagi toleransi antarumat beragama. Namun apabila dikaitkan dalam toleransi sosial, maka menjadi menghormati keyakinan orang lain dalam suatu kelompok. Misalnya menghormati sebuah pengambilan keputusan dalam suatu organisasi.
- Saling mengerti
Tidak akan terjadi saling menghormati antara sesama jika manusia bila mereka tidak saling mengerti. Saling mencurigai dan saling membenci serta saling berebut pengaruh adalah salah satu akibat dari dari tidak adanya saling menghargai antara satu dengan yang lain.
Lalu pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana definisi intoleransi itu sendiri?
Menurut hemat penulis, intoleransi adalah kebalikan dari toleransi itu sendiri, yang berarti secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu sikap tidak menghargai perbedaan antar sesama baik dari sisi agama, etnis ataupun yang lainnya sehingga dapat menimbulkan kebencian bahkan kekacauan. Jika sikap intoleran terus terjadi tanpa adanya upaya kesadaran diri, dapat berakibat konflik sosial yang mengarah pada proses disintegrasi bangsa.
Dalam konteks dunia pendidikan di lingkungan sekolah, bentuk-bentuk intoleransi misalnya perlakuan tindak kekerasan, tidak adanya penghormatan terhadap sesama, perlakuan yang tidak adil dan lain sebagainya.
Menurut hemat penulis, berdasarkan beberapa kasus intoleransi seperti yang telah disebutkan di atas, sangat jelas sekali bahwa perlakuan tersebut merupakan tindakan intoleransi di dunia pendidikan khususnya di lingkungan satuan pendidikan yang sangat mencederai dunia Pendidikan dan seharusnya tidak perlu terjadi.
Solusi dari masalah intoleransi ini misalnya dengan cara satuan pendidikan atau pihak sekolah mengadakan kampanye anti intoleransi, bekerja sama dengan pihak-pihak terkait seperti komite & orang tua peserta didik membuat program pencegahan dan penanganan intoleransi, sosialisasi menghadirkan pembicara atau narasumber terkait, pendidik memberikan muatan materi pembelajaran terkait pentingnya saling bertoleransi, pengawasan kedua orangtua terhadap anaknya terkait lingkungan sosial dan penggunaan smarthphone atau gadget, mendekatkan anak dengan agama serta saling memberikan keteladanan antarsesama serta berlomba-lomba dalam kebaikan.
Penulis merupakan Guru Pendidikan Agama Islam SD Negeri 9 Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan
