Prestasi tersebut sangat membanggakan bagi saya, mengingat referensi sastra saya saat itu sangat terbatas. Hanya tahu beberapa penulis era 2000-an (Andrea Hirata, Habiburrahman El-Shirazy, dan Asma Nadia), serta sedikit karya sastra Angkatan Pujangga Baru dan Angkatan 66 dari Majalah Horizon di Perpustakaan SMA.

Selain itu, ada beberapa momen berkesan saat beliau menjadi wali kelas. Pertama, saat beliau mengoordinasi kami untuk persiapan lomba class meeting antar kelas.

Berkat persiapan yang matang dan sedikit keberuntungan, kami berhasil memenangkan beberapa cabang perlombaan dan mendapatkan hadiah 2 buah kipas angin. Setelah kedua kipas tersebut dipasang di dinding kelas, hawa udara kelas yang panas berubah jadi cukup sejuk.

Baca Juga  Pengabdian Seorang Guru yang Menantang Ombak hanya untuk Mengajar

Momen berikutnya adalah saat menjelang perpisahan SMA circa Februari-Maret 2014. Beliau mengundang kami bertamu ke rumahnya di Bukit Semut, Sungailiat.

Di sana kami banyak mengobrol tentang banyak hal, baik tentang pilihan jurusan kuliah, minat-bakat, dunia sastra, dan lain-lainnya. Bahkan kami diberikan oleh-oleh berupa beberapa eksemplar buku puisi karya beliau.

Selamat jalan, Bu Kuniati. Terima kasih atas kesan baik, suri teladan, dan ilmu yang sudah ibu berikan pada kami. Semoga segala kebaikan Ibu dibalas dengan Surga-Nya. Amin, Ya Rabbal Alamin.

Penulis merupakan salah satu dokter di RSUD Bangka Selatan.