4 Cangkir Kopi dan Tiga Pendekar Muda Literasi Junjung Behaoh

Oleh: Iyek Aghnia

Jumat (25/4), merupakan hari yang istimewa bagi penulis. Menjelang Jumatan, penulis bisa berbincang dengan tiga penulis muda Bangka Selatan.

Ditemani kopi hitam, di sebuah warung kopi yang terletak di jalan utama Kota Toboali, penulis bertemu dengan Rapi, Erik dan Faturrahman.

Rapi bukan hanya seorang pendidik. Tulisannya sering menghiasi media massa lokal dengan artikel pendidikannya.
Tenaga pendidik di Pulau Panjang ini baru saja meluncurkan sebuah buku yang berjudul Mencetak Generasi Gemilang di Era Digital.

Sementara, Erik adalah fresh graduated jurusan Ilmu komunikasi. Artikelnya kerap menghiasi rubrik opini media baik lokal maupun nasional.

Baca Juga  Bina Desa Mahasiswa Agribisnis UBB, Alfeddy: Mari Satukan Visi Kembalikan Kejayaan Lada Putih

Sedangkan Faturrahman adalah seorang dokter muda. Sangat concern pada dunia literasi. Tulisannya beragam. Mulai dari cerpen hingga budaya lokal.

Hanya dalam waktu kurun waktu 2 jam, tulisan tentang Obituari Srikandi Literasi Bangka Belitung Kurniati (alm) dari alumnus Fakultas kedokteran Unpad ini telah terpublikasi di media lokal Bangka Belitung.

Berbincang dengan tiga penulis muda Bangka Selatan ini, penulis menemukan harapan baru dunia literasi.

Setidaknya, dipundak mereka, dunia literasi Junjung Behaoh akan terus menggeliat seriring perkembangan waktu dan zaman.