Dalam kasus itu, pendidikan bisa hadir bukan sebagai pengamat netral, tapi sebagai fasilitator kesadaran kritis: mengapa masyarakat menolak, bagaimana dampaknya terhadap sosial-ekologis, dan bagaimana konflik semacam ini bisa diantisipasi ke depan.

Pendidikan lingkungan dalam konteks ini tidak bisa hanya dijalankan dengan pendekatan normatif seperti membuat mading, lomba daur ulang, atau upacara dengan tema hijau.

Pendidikan lingkungan yang sejati harus hadir melalui integrasi kurikulum, yang tak hanya menyisipkan topik-topik lingkungan dalam pelajaran Biologi, tapi juga membicarakan keadilan ekologis dalam pelajaran PPKn, membedah struktur konflik sumber daya dalam pelajaran Geografi, dan merefleksikan krisis iklim dalam pelajaran Agama dan Bahasa.

Lebih jauh, pendidikan lingkungan juga harus menanamkan nilai “kesadaran ekologis sebagai identitas,” terutama di wilayah seperti Bangka Belitung, yang secara geografis dan historis begitu erat dengan alam.

Baca Juga  Perlindungan dan Peyelarasan Hak Waris: Membangun Keadilan Pembagian Harta Warisan

Di tanah ini, masyarakat hidup berdampingan dengan laut, hutan, dan sungai. Ketika pendidikan gagal mengakar pada ekosistem lokal, maka ia juga gagal menghubungkan siswa dengan realitas tempat mereka berpijak. Ini sebabnya, pendidikan harus dibumikan—harus menjadi milik tempat dan waktu di mana siswa itu hidup.

Dalam konteks kebijakan, Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momen refleksi bagi pemerintah untuk meninjau ulang kurikulum yang masih terlalu sentralistis dan minim kontekstualisasi lokal.

Di Bangka Belitung, misalnya, seharusnya ada modul wajib yang secara spesifik membahas sejarah dan dampak tambang timah terhadap masyarakat dan lingkungan.

Begitu pula, sekolah-sekolah di kawasan pesisir harus punya muatan lokal tentang konservasi laut, pengelolaan mangrove, dan mitigasi abrasi. Tanpa ini, pendidikan hanya jadi menara gading yang tak berpijak pada tanah retak di bawahnya.

Baca Juga  Pemuda Berpolitik: Bolehkan Anak Muda Memimpin?

Apa yang kita tanam dalam pendidikan hari ini, akan kita tuai dalam bentuk kepemimpinan dan perilaku generasi mendatang. Jika yang kita tanam adalah ketidakpedulian, maka yang akan tumbuh adalah pembiaran atas kerusakan.

Sebaliknya, jika yang kita tanam adalah empati ekologis, maka akan tumbuh generasi yang tak hanya cerdas, tapi juga berani bersuara untuk bumi.

Hari Pendidikan Nasional 2025 harus menjadi titik balik. Bukan lagi sekadar perayaan, melainkan penegasan bahwa pendidikan dan lingkungan adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan.

Ketika lingkungan rusak, pendidikan pun kehilangan konteks dan daya hidupnya. Dan ketika pendidikan gagal melindungi lingkungan, maka ia kehilangan fungsinya sebagai alat pembebas.

Baca Juga  Good Manufacturing Practices: Kunci Keamanan Pangan Program Makan Bergizi Gratis

Kini, pilihan ada di tangan kita: terus mendidik dengan cara lama yang menutup mata dari krisis ekologis, atau mulai mendidik dengan cara baru—yang berani, relevan, dan berpihak pada masa depan bumi.

Sudah saatnya sekolah bukan hanya tempat belajar, tapi juga menjadi benteng terakhir perlawanan terhadap kerusakan lingkungan.