Sementara dari SMA Muhammadiyah Toboali lahir penulis feature terbaik untuk tingkat nasional yakni Ferlisya Andini dan Selvia Metha Erdevita.

Pada tingkat Sekolah Dasar ( SD) ada Adibah siswi SDN 5 Tukak Sadai yang telah biasa menulis cerita pendek. Bahkan dalam lomba menulis cerpen Bahasa Bangka yang diselenggarakan Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung beberapa waktu lalu, Adiba masuk 10 ( sepuluh) besar terbaik.

Kehadiran para penulis wanita dari Bangka Selatan, khususnya lahir dari rahim rumah pengetahuan, institusi sekolah tentunya menawarkan banyak harapan yang besar dan tinggi untuk kebermajuan dunia literasi daerah Bangka Selatan.

Setidaknya buah warisan dari pioner dunia kepenulisan dan sastra Toboali Bangka Selatan Bakri Djais (alm) tetap terwarisi dan makin menggeliat untuk mengangkat nama daerah dalam panggung terhormat literasi nasional.

Baca Juga  Kebohongan dalam Politik

Pada sisi lain Mantan Ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Saparinah Sadli meminta kaum perempuan saat ini harus lebih banyak menuangkan pikiran dan gagasannya melalui tulisan.

“Perempuan harus menulis. Untuk menyebarkan gagasan seperti yang dilakukan oleh Kartini. Itu pentingnya menulis untuk menuangkan pikiran,” ujar Saparinah, dalam diskusi bulanan Penerbit Buku Kompas, di Bentara Budaya Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dia menuturkan, saat ini belum banyak perempuan yang mengikuti jejak Kartini dalam berpendapat melalui tulisan.

Pada abad 19, Kartini banyak memberikan kritik terhadap kondisi sosial masyarakat. Ketika itu perempuan selalu ditempatkan dan diperlakukan tidak setara dengan kaum laki-laki. Beberapa hal yang selalu ditentang oleh Kartini adalah soal perkawinan anak di bawah umur dan poligami. Itu bisa dilihat dari sejumlah surat yang ditulis oleh Kartini.

Baca Juga  Mengukuhkan Kesaktian Pancasila: Landasan Utama Pembangunan Bangsa

Harapan kita tentunya sebagai pegiat literasi, para penulis wanita dari tanah Junjung Behaoh ini terus melahirkan gagasan, ide dan karyanya melalui tulisan. Apakah dalam bentuk sastra, opini atau feature.

Setidaknya apa yang disampaikan Saparinah Sadli bahwa kaum perempuan harus berani mengemukakan gagasannya untuk memberikan pemikiran alternatif yang selama ini lebih didominasi oleh kaum laki-laki.

Tiba-tiba penulis ingat dengan nama-nama Nh Dini, Mira W, Dewi Lestari, Ika Natassa, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu dan Okky Madasari.

Dan tentunya penulis perempuan dari tanah Serumpun Sebalai, angkatan Pujangga Baru, Hamidah dan sahabat kita Kurniati. Mereka adalah Srikandi Literasi Bangka Belitung.

Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Baca Juga  Sepucuk Surat Receh untuk Kakak