Akibatnya, banyak perempuan harus memilih antara mempertahankan karier atau mengabdi sepenuhnya pada rumah tangga.

Bukan karena tidak mampu menjalani keduanya, tetapi karena sistem sosial dan kebijakan belum membuka ruang yang adil bagi mereka. Padahal, dalam tatanan yang mendukung, perempuan bisa tetap menjadi sosok ibu yang hangat di rumah dan tetap berdaya di dunia kerja.

Situasi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan yang tercantum dalam dokumen hukum dan realitas sosial yang dihadapi perempuan.

Menurut penulis Pemkab Bangka Barat perlu mengambil langkah nyata untuk menaikkan nilai-nilai kesetaraan gender melalui program sosialisasi, pelatihan sensitif gender bagi institusi, dan perbaikan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih inklusif terhadap ibu bekerja.

Baca Juga  Tanah Terlantar: Untuk Rakyat atau Oligarki?

Sebagai penutup analisa ini, penutup mengingatkan bahwa persoalan ini bukan sekadar soal perempuan bekerja atau tidak, tetapi menyangkut hak, mimpi, dan martabat.

Tanpa dukungan sistemik, perempuan akan terus dipaksa memeluk diam, menenangkan cita-cita dalam senyap, dan kehilangan sebagian dirinya. Kita semua punya tanggung jawab untuk tidak menjadi alasan mengapa mimpi itu layu, melainkan menjadi ruang agar ia bisa tumbuh perlahan, dengan bahagia.