Refleksi Kurban: Puncak Ketaatan Anak terhadap Orang Tua
Sahabat Nabi Suri Tauladan
Kita tentu sering mendengar kisah salah satu sahabt Nabi yang masuk surga disebabkan taat kepada orangtuanya. Ialah Uwais Al-Qarni. B
ahkan sejarah mencatat, semasa hidupnya beliau tidak pernah bertemu dengan sang nabi. Bukan berarti beliau enggan untuk bertemu sang idola, akan tetapi seluruh waktunya didedikasikan untuk membantu ibunya yang sudah tua.
Namun meskipun begitu, Nabi mengerti dan paham terhadap situasi dan kondisi beliau yang sibuk berbakti kepada orang tuanya.
Bahkan beliau memberikan sebuah pesan yang sangat istimewa kepada orang-orang tersekatnya mengenai Uwais Al-Qarni.
“Akan datang kepada kalian seorang laki-laki dari Yaman yang bernama Uwais. Ia sangat berbakti kepada ibunya. Jika kalian bertemu dengannya, mintalah ia untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk kalian.” (HR. Muslim)
Ini adalah gambaran, bagaimana nabi memuliakan orang yang berbakti kepada orang tua.
Ekspresikan Ketaatan di Musim Kurban
Oleh karenanya, dalam momentum yang sangat sakral ini, detik-detik menjelang Idul Qurban, mari kita mengaca sebentar.
Sejauh mana kata “birrul wâlidin” kita terapkan dan tanamkan dalam jiwa kita. Apakah hari-hari yang kita lalui selalu mengedepankan hak-hak orangtua yang wajib kita tunaikan, atau bahkan mengabaikannya?
Setidaknya, melalui ditakdirkannya untuk bertemu denga Hari Raya Idul Adha tahu ini, kita bisa membangkitkan semangat ibadah dan terus berjalan pada rambu-rambu kebaikan. Karena, sejatinya hari ini kita sedang menyiapkan bekal untuk kehidupan yang abadi, akhirat.
