Refleksi Kurban: Puncak Ketaatan Anak terhadap Orang tua

Oleh: Sari Sa’ban — Ketua Lembaga Amil Zakat Sidogiri Cabang Bangka Belitung

Menghormati kedua orang tua adalah sebuah kewajiban bagi kita, selaku sang anak. Salah satu kewajiban bagi kita selaku umat muslim ialah menghormati, menyayangi, dan mengerti keadaan orang tua kita.

Selain memang perintah dari Allah SWT, hal tersebut juga merupakan kelaziman dan bentuk balas budi kita kepada mereka yang telah merawat dan menjaga selagi kecil.

Perintah tersebut dicantumkan dalam Al-Quran, “Dan sembahlah Allah serta jangan sekutukan Allah dengan sesuatu. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” [Q.S. An-Nisa:36].

Dalam peristiwa kurban ada hikmah yang sangat besar dan patut untuk kita contoh. Yakni awal disyariatkan kurban.

Baca Juga  Inovasi dan Kemandirian Keuangan Daerah

Peristiwa unik tersebut terekam dalam Al-Quran, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku bermimpi menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” ia menjawab,” Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintah kepadamu. Insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” [Q.S. As-Shaffat:37]

Ayat tersebut menjadi justifikasi terhadap kesunahan berkurban dalam madzhab Syafi’i. Definisi berkurban sendiri yakni menyembelih hewan ternak dalam rangka usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dan hewan yang disembelih yakni kambing, sapi, dan unta dengan ketentuan dan syarat-syarat tertentu. Adapun waktu menyembelih hewan kurban tersebut mulai dari setelah melaksanakan sholat ied hingga akhir hari tasyrik yakni tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjan [Al-Iqna’ fi Halli Alfadzi Abi Syuja’: hal 277].

Selain itu, ayat tersebut juga mengingatkan kita akan pentingnya menghormati orangtua. Bisa kita bayangkan, ada seorang ayah yang mengungkapkan kepada anaknya bahwa ia hendak menyembelih sang anak.

Baca Juga  Catatan Literasi Jurnalistik di Penghujung Tahun

Dahsyatnya, tanpa berpikir panjang sang anak langsung mengiyakan apa yang diutarakan oleh sang ayah. Dalam istilah lain, sang anak rela memberikan nyawa kepada ayahnya demi melaksanakan perintah dari Allah lewat mimpi. Kisah tersebut terjadi pada Nabi Ibrahim A.S yang bermimpi menyembelih putranya, Nabi Ismail A.S.

Begitulah Al-Quran menggambarkan sebuah ketaatan yang wajib dilakukan sang anak terhadap kedua orangtuanya. Bahkan dalam keadaan apapun, sang anak harus mengedepankan hal-hal yag dibutuhkan oleh orang tua. Kecuali perkara yang berkaitan dengan kemungkaran dan kemaksiatan.