“Ya Allah, aku lelah, sangatlah lelah,” gumamnya pelan. “Ya Allah, kapan ya, aku bisa memiliki laptop sendiri? Agar aku bisa leluasa nulisnya seperti penulis-penulis hebat lainnya.

Jika aku menggunakan laptop, adakah Barokah-Mu untukku? Semoga saja Engkau bisa mendengar doaku ini,” ujar Dinda berkeluh kesah kepada Allah SWT, sambil mengangkat kedua tangannya itu.

Kalimat keluh yang tak seharusnya itu tiba-tiba kembali meluncur dari bibirnya. Air mata yang tadinya sudah berhenti seketika mengalir lagi. Ia sudah merasa lelah, tetapi takbisa berhenti. Tiga tahun lebih lamanya ia selalu menulis menggunakan handphone karena ia tidak punya laptop, tidak ada meja belajar, maupun tak ada lampu belajar yang diletakkan di atas meja kamar. Yang ada hanyalah buku catatan diary.

Baca Juga  Serial Keluarga Ummi: Konsekuensi

Ia tidak bisa menyalahkan siapa pun. Ibunya hanya seorang rumah tangga yang mengurus keluarga, sementara ayahnya hanya seorang buruh harian lepas.

Hidup mereka begitu sangatlah sederhana, hanya cukup untuk makan saja yang terkadang kebutuhan lainnya pun sulit dan terkadang keluarga mereka pun sempat menahan lapar karena tidak ada apa pun di rumah.

Maka dari itulah Dinda tak pernah berani meminta. Ia hanya bisa berdoa, berharap, menyimpan semuanya di malam-malam seperti ini dan mengungkapkan segalanya melalui tulisan.

“Meski tidak ada jawaban sekarang, semoga kelak bisa tercapai,” keluhnya kembali.

Malam makin larut. Ia masih terus menangis diam-diam, seperti hari biasanya. Hanya dinding dan langit yang tahu seberapa besar air mata yang jatuh karena menulis.

Baca Juga  Sajak Dungu dan Noda Hijau

Dinda menengok jam dinding dan ternyata waktu menunjukkan pukul 02.17. Di luar, hujan turun perlahan. Dinda masih duduk, matanya sembab, tapi jemarinya tak berhenti. Ia tahu, dunia mungkin belum memberinya laptop, tapi dunia tak bisa mengambil semangatnya.

“Pliss, tidur ya, kumohon tidur,” gumamnya di dalam hati. Setelah mencoba memejamkan mata, ia pun kini telah tertidur dengan pulas.

Sementara waktu terus berjalan. Keesokan harinya, ia akan kembali menulis. “Semangat diriku,” ujarnya penuh semangat, meski di dalam kondisi apa pun itu.

Meski mungkin ia menulis masih dengan ponsel yang sama, mungkin masih di pojok kamar yang sepi. Tapi kini, ia tahu, setiap kata yang lahir selama ini dari buah ujung jarinya, dan setiap tangis kesedihan air mata yang jatuh di ujung malam tak akan pernah sia-sia.

Baca Juga  Jeruk Serbaguna

Dan di detik itu pula ia berjanji bahwa ia akan terus menulis, terus mencintai dunianya, meski di dalam kondisi apa pun itu. Karena baginya, sekarang dari langkah kecil ini, akan lahir karya besar yang bisa menginspirasi banyak orang.

Seharusnya ia pun tidak harus mengeluhkan keadaannya karena semua sudah diatur oleh Yang Kuasa. Mungkin Tuhan punya rencana lain untuk dirinya, yang belum diketahui hingga kini.