Oleh: Putri Simba

Lapangan Smansa Simba pagi itu tampak berbeda. Kursi-kursi berjejer rapi, panggung kecil berdiri dengan hiasan bunga kertas cantik serta background wisuda. Di belakang depan panggung, bendera merah putih berkibar gagah, seolah ikut menyaksikan momen berharga itu hari perpisahan kelas XII Smansa Simba angkatan ke XVI 2025.

Tampak para siswa dan guru serta para orang tua sudah menduduki kursi masing-masing, acara dimulai terlihat bapak kepala sekolah, Bapak Hendra, S.Pd.,M.M., berdiri di depan panggung.

Dengan suara berat ia berkata, “Anak-anak, hari ini kalian resmi menyelesaikan perjalanan di SMA ini. Setiap langkah kalian di lapangan ini adalah bagian dari perjalanan hidup. Hari ini, lapangan yang sama menjadi saksi bahwa kalian siap melangkah ke masa depan. Tapi ingatlah, masa depan bukan berarti melupakan masa lalu. Jangan pernah lupakan sekolah ini, guru-guru kalian, dan teman-teman seperjuangan. Bapak doakan semoga kalian semuanya sukses di masa depan di mana pun nantinya kalian berada.”

Baca Juga  Jejak Cinta yang Takpernah Hilang

Seisi lapangan hening. Hanya terdengar suara burung dari pepohonan di sekitar sekolah. Beberapa siswa sudah menunduk, menyeka air mata.Tibalah giliran seorang siswa maju ke podium untuk menyampaikan kata perpisahan. Namanya Yuliza, siswi yang dikenal cerdas, sang juara kelas serta umum yang sekaligus dekat dengan banyak guru. Tangannya bergetar memegang kertas, tapi ia berusaha tersenyum.

“Yang terhormat, Bapak Kepala Sekolah, guru-guru tercinta, dan teman-teman seperjuangan. Hari ini adalah hari yang berat. Berat … karena kami harus mengucapkan selamat tinggal pada tempat yang sudah seperti rumah sendiri. Berat … karena kami harus berpisah dari guru-guru yang sudah seperti orang tua kami sendiri.”

Baca Juga  Haikal dan Buku Tua Pengantar Masa Depan

Suaranya mulai bergetar. Ia berhenti sejenak, mengusap matanya yang mulai basah.

“Terima kasih banyak teman-temanku semuanya, atas setiap cerita kisahnya selama 3 tahun ini, terima kasih karena kita sudah selalu bersama-sama berjuang suka duka hingga ke titik sekarang ini. Bersama kalian adalah anugerah terbesar dalam hidupku. Kita tertawa bersama, menangis bersama, dihukum bersama, dan bermimpi bersama.

Tangis mulai terdengar di barisan siswa.

“Terima kasih bapak ibu guruku, karena telah menjadi ayah dan ibu bagi kami di sekolah. Terima kasih karena selalu percaya bahwa kami mampu, bahkan ketika kami sendiri ragu. Untuk semua guru … maafkan jika kami sering membuat marah, sering melanggar aturan, sering tidak mendengarkan. Percayalah… semua nasihat kalian akan kami bawa ke masa depan.”

Baca Juga  Janji untuk Ayah