Ia tak kuasa lagi menahan air matanya. Mikrofon di tangannya bergetar, membuat suaranya pecah.Seisi lapangan ikut larut dalam tangis. Guru-guru yang duduk di barisan depan pun menyeka air mata.

Ia turun, berapa menit kemudian lalu tibalah momen terakhir: murid-murid maju bergantian menyalami guru. Saat lirik lagu Hymne Guru dibunyikan, semua mata berkaca-kaca. Mereka saling menggenggam tangan, menahan tangis.

“Aku bakal kangen banget sama kalian semuanya” kata salah satu siswa XII¹ lirih.

“Kami juga, Tapi meski terpisah, kita jangan lupa kirim kabar, ya?” jawab serentak beberapa siswa kelas XII¹ dengan suara bergetar.

Lagu demi lagi terus diputar, semua siswa kelas XII berbaris memanjang satu persatu bersalaman kepada bapak ibu guru Smansa Simba. Di situ mereka berpelukan, dan tangis pun pecah. Semua siswa dan guru tampak berpelukan dengan menumpahkan segala rasa yang tertahan.

Baca Juga  Hadiah yang Kembali

“Sukses selalu buatmu nak, jangan pernah lupakan gurumu ini, ya?” ujar salah satu guru Smansa ketika memeluk siswanya itu dengan meneteskan air mata.

Pelukan di tengah lapangan itu menjadi saksi betapa kuatnya ikatan seorang guru dan murid. Angin siang hari berembus kencang, membawa suara tangis dan tawa terakhir di sekolah itu.

Lapangan yang biasanya ramai dengan suara riang kini menjadi ruang penuh keharuan. Suara isakan, doa, dan janji untuk tidak melupakan satu sama lain bercampur dengan embusan angin. Hari itu, mereka benar-benar melangkah terakhir di lapangan hijau sekolah sebelum akhirnya terpisah menuju jalan hidup masing-masing.

Blitang, 20 Agustus 2025