Ketika Banjir Tak Lagi Sekadar Air: Pangkalpinang dan Perang Sunyi antara Manusia dan Alam
Yang mengkhawatirkan adalah respons kita yang sering keliru. Ketika ada satwa muncul, yang dilakukan pertama kali adalah memburunya atau mengusirnya secara agresif. Padahal, mereka bukan datang untuk mengganggu.
Mereka terdorong oleh kebutuhan dasar: perlindungan dan makanan. Justru kita yang perlahan merampas wilayah hidup mereka melalui pembabatan hutan, pembangunan liar, hingga pencemaran air yang merusak rantai makanan mereka.
Mitigasi bencana seperti banjir harus dilakukan, tapi tidak bisa lagi hanya dalam bentuk teknis seperti membangun drainase atau meninggikan jalan. Kita butuh pendekatan yang lebih menyeluruh.
Tata ruang kota harus memasukkan pertimbangan ekologi. Koridor satwa perlu dijaga atau bahkan dibuat ulang agar mereka punya jalur aman untuk berpindah saat kondisi kritis. Kawasan penyangga di sekitar daerah rawan banjir perlu dijadikan zona perlindungan ganda: bagi manusia dan satwa.
Pemerintah daerah bersama para akademisi dan LSM sebetulnya punya peran besar dalam mengubah arah kebijakan ini.
Kita butuh lebih banyak riset tentang perilaku satwa lokal dan pola migrasi mereka saat bencana. Kita juga perlu memperbanyak program edukasi kepada masyarakat, agar mereka bisa mengenali cara-cara yang aman dan bijak saat harus berhadapan dengan satwa yang masuk ke wilayah mereka.
Lebih dari itu, pendekatan yang dikenal dengan istilah One Health harus mulai diterapkan. Bahwa kesehatan dan keselamatan manusia tidak bisa dilepaskan dari kesehatan lingkungan dan satwa yang hidup di dalamnya.
Saat ekosistem seimbang, risiko bencana, wabah, atau konflik pun bisa ditekan.
Pangkalpinang dan daerah-daerah lain di Bangka sudah memasuki masa kritis. Banjir bukan lagi peristiwa luar biasa, tapi menjadi siklus tahunan yang semakin tidak bisa diprediksi.
Kalau kita tidak mulai mengubah cara pandang—dari yang semula fokus pada solusi jangka pendek menjadi strategi jangka panjang berbasis ekosistem—maka bukan tidak mungkin, ke depan, konflik antara manusia dan satwa liar akan makin sering terjadi, bahkan memakan korban jiwa.
Air mungkin akan surut, rumah bisa dibersihkan, dan jalan bisa diperbaiki. Tapi jika habitat hilang, jika ekosistem rusak, kita tidak hanya kehilangan keseimbangan, tapi juga menciptakan perang sunyi yang tak terlihat antara manusia dan alam. Dan perang semacam itu, dari sejarah mana pun, tak pernah benar-benar berakhir dengan kemenangan.
