Proses alih fungsi lahan ini membuat trenggiling kehilangan tempat tinggal dan sumber mkanan, sehingga mendorong mereka keluar dari hutan dan menjadi lebih rentan terhadap pemburuan serta konflik dengan manusia.

Untuk mencegha kepunahan trenggiling di Kepulauan Bangka Belitung, diperlukan langkah konkret dan berkelanjutan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Langkah pertama adalah penguatan penegakan hukum terhadap pelaku perburuan dan perdagangan satwa liar.

Pemerintah daerah dan aparat penegak hukum harus meningkatkan patroli, pengawasan, serta pemberian sanksi yang tegas terhadap pelanggaran hukum yang merugikan keanekaragaman hayati. Penegakan hukum yang konsisten menjadi kunci utama agar efek jera dapat tercipta dan praktik perdaganga ilegal bisa ditekan.

Langkah selanjutnya adalah mengendlikan alih fungsi lahan secara ketat. Pemerintah daerah perlu enyusun tata ruang yang berkelanjutan dan berpihak pada pelesterian lingkungan, khususnya di kawasan-kawasan yang menjadi habitat trenggiling. Pemberian izin tambang atau perkebunan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap keanekaragaman hayati.

Baca Juga  AI Vs Manusia: Siapa yang Bertahan di Dunia Kerja?

Di sisi lain, di butuhkan upaya resortasi habitat, baik melalui penghijauan kembali kawasan kritis maupun pengembangan koridor satwa ilegal agar trenggiling dan satwa lainnya dapat berpindah dan berkembang biak dengan aman.

Edukasi dan pelibatan masyarakat lokal juga tak kalah penting. Banyak masyarakat belum memahami peran penting trenggiling dalam ekosistem.

Melalui pendekatan edukatif dan budaya lokal, masyarakat dapat diajak untuk turut menjaga dan melaporkan aktivitas ilegal yang mengancam satwa liar. Pemberdyaan masyarakat sekitar kawasan hutan melalui program konservasi berbasis masyarakat, seperti patroli warga, wisata edukatif, atau penanaman pohon, dapat memperkuat komunitas sebagai garda terdepan pelestarian alam.

Selain itu, kemitraan multipihak sangat dibutuhkan, baik antara pemerintah, LSM, peneliti, sektor swata, maupun media. LSM dapat menjadi jembatan dalam advokasi dan edukasi, sementara akademisi bisa menyuplai data ilmiah yang diperlukan dalam pengambilan kebijakan berbasis bukti.

Baca Juga  Kebohongan dalam Politik

Peran media massa dan media sosial juga penting dalam menyuarakn isu ini ke ruang publik agar mendapat perhatian nasional bahkan internasional.

Trengiling bukan hanya satwa unik dengan sisik khasnya, melaikan simbol dari kerenranan keanekaragaman hayati Indonesia yang kian tertekan oleh kepentingan ekonomi jangka pendek.

Kepunahan trenggiling bukan hanya kehilangan satu spesies, tetapu juga pertanda gagalnya manusia dalam menjaga harmoni dengan alam.

Bangka Belitung sebagai wilayah yang kaya akan sumber daya alam sejatinya juga memikul tanggung jawab besar dalam menjaga kekayaan hayatinya.

Sudah saatnya kita tidak lagi memposiskan ekonomi dan lingkungan sebagai dua kutub yang saling bertentangan. Justru, masa depan ekonomi yang berkelanjutan hanya bisa terwujud jika didukung oleh kelestarian lingkungan.

Baca Juga  Ketika Organisasi Mengalami "Demam"

Dengan komitmen kuat dari pemerintah, dukungan masyarakat, serta kerja sama antar pihak, trenggiling masi bisa diselamatkan, Jika tidak segera bertindak, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya akan mengenal trengiling dari gambar buku dan museum.

Maka, menyelamatkan trenggiling hari ini adalah investasi nyata untuk menjaga keseimbangan alam dan warisan kehidupan Bangka Belitung di masa depan.