Merindukanmu

Oleh: Putri Simba

Pagi itu udara terasa sangat indah. Angin sejuk menyapu lembut, ditemani kicauan burung yang riang menyapa mentari pagi. Di tengah suasana damai itu, Dinda bersiap menjadi narasumber dalam pelatihan jurnalistik yang dimulai tepat pukul 08.00 Wib.

Dengan semangat, Dinda menjelaskan materi kepada para peserta. Sesekali ia melempar senyum, lalu tiba-tiba ia menunjuk ke arah peserta.

“Adik-adik, sekarang Kakak minta satu orang maju ke depan, ya,” ujarnya penuh semangat.

Ruangan hening. Takada satu pun yang mengangkat tangan. Hanya beberapa anggukan kecil dengan wajah malu-malu. Lima belas menit berlalu, tak satu pun peserta yang maju.

Akhirnya Dinda berkata sambil tersenyum lembut,

Baca Juga  Bukan Khalayan Biasa

“Kalau nggak ada yang maju, sekarang Kakak tunjuk, ya. Oke, Kakak pilih … adik manis yang duduk di depan ini.”

Ia menunjuk seorang gadis kecil yang terlihat gugup. Perlahan, gadis itu berdiri dan maju ke depan dengan senyum malu-malu. Ternyata, gadis itu adalah adik kelas Dinda sendiri, Ayu.

Dengan suara pelan, tetapi jelas, Ayu menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh teman-temannya. Senyum takpernah lepas dari wajahnya, membuat suasana menjadi hangat dan menyenangkan.

Setelah itu, Dinda memberi tugas kepada seluruh peserta.

“Nah, sekarang, silakan kalian buat berita tentang Ayu, ya,” ujarnya penuh antusias.

“Siap, Kakak!” jawab peserta serempak.

Ruang kelas pun menjadi ramai. Suara tawa kecil, bunyi kerupuk yang dikunyah, dan diskusi antar kelompok, membuat suasana semakin hidup.

Baca Juga  Cerita Sampah I: Nasib LDPE

Masing-masing kelompok mulai menyusun berita. Waktu pun terus berjalan hingga suara azan Zuhur berkumandang lembut dari kejauhan.

Saat Dinda berkeliling, terlihat wajah-wajah lelah. Perut mulai keroncongan, menandakan sudah waktunya makan siang.

“Karena waktu belajarnyanya sudah selesai, tugasnya dilanjutkan di rumah, ya. Dikumpulkan besok siang pukul 12.00 Wib,” kata Dinda sambil tersenyum.

“Baik, Kak,” jawab mereka kompak