Derita Lingkungan di Tengah Maraknya Perkebunan Sawit
Derita Lingkungan di Tengah Maraknya Perkebunan Sawit
Oleh: Osamabila – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Perkebunan sawit merupakan sektor perkebunan yang sangat menjanjikan. Pohon sawit dipilih menjadi investasi jangka panjang karena proses perawatan kebun sawit yang relatif mudah ketimbang sektor perkebunan lada, kemudian harganya yang relatif stabil sebab tingginya permintaan global untuk membuat minyak sayur.
Oleh karena itu, masyarakat Bangka Belitung berbondong-bondong mengalihkan lahan yang dimiliki dari perkebunan lada dan karet menjadi kebun sawit.
Di sepanjang jalan raya di desa-desa yang ada di Bangka pasti didominasi oleh perkebunan sawit. Dengan maraknya kebun sawit membuat perkebunan lada tergerus dan mulai hilang dari identitas Bangka yang terkenal akan ladanya.
Selain itu, perkebunan sawit juga mengancam keanekaragaman hayati dan habitat satwa akibat deforestasi hutan primer dan sekunder menjadi perkebunan yang bersifat homogen sehingga menimbulkan penurunan populasi bahkan punah bagi flora dan fauna endemik.
Salah satu satwa yang terancam akibat perkebunan ini ialah Mentilin (Cephalopachus bancanus bancanus), hewan endemik ini mengalami kesulitan mencari makanan akibat menurunnya jumlah serangga dan hewan vertebrata sebagai sumber makanan utama.
Mentilin ialah salah satu hewan endemic Kepulauan Bangka Belitung yang di jadikan salah satu icon bangka akibat populasinya yang ternacam punah. Menurut IUCN, mentilin ini berstatus rentan (VU).
