Kolaborasi Guru dan Orang Tua: Ciptakan Karakter Positif pada Anak

Oleh: Ustaz Moh. Nur Alam Syah, S.Ag. — Kepala Sekolah SDIT Sohibul Quran Toboali

Pendidikan bukan hanya sekadar ranah memberi dan menerima ilmu, namun juga media pembentukan karakter individu yang dipimpin dan dibimbing oleh guru.

Bukan hanya guru, bahkan lingkungan pun punya pengaruh besar dalam proses pembentukan karakter. bisa saja anak tumbuh dengan sifat peduli karena guru membiasakan dengan perbuatan saling tolong menolong.

Namun sebaliknya, bisa saja anak tumbuh dengan sifat yang acuh tak acuh karena tidak adanya edukasi yang diberikan oleh guru ataupun perbuatan yang dapat contoh agar dapat menumbuhkan sifat peduli yang dilihat dari lingkungannya.

Baca Juga  Sepekan Kasus Pembunuhan, Tim Gabungan Polda Babel Amankan Pria Diduga Pembunuh Hafiza

Oleh karena itu, tugas besar seorang pendidik adalah mampu mengontrol apa saja edukasi yang disampaikan kepada anak didiknya.

Karena suatu kebiasaan buruk yang diperlihatkan di depan anak dan berulang-ulang kali dilakukan, itu akan menjadikan pola pikir anak berasumsi bahwa sesuatu yang buruk boleh dilakukan.

Anak akan menormalisasi hal-hal buruk lainnya. Bukan hanya itu, peran guru pun harus didampingi oleh peran orang tua, sebab ketika pulang dari sekolah, anak akan lepas dari pengawasan guru.

Oleh karena itu, dalam proses pendidikan, peran orang tua tak kalah penting dari peran seorang guru yang mengajarkan dan mengedukasi ketika anak di sekolah, sebab ketika di rumah anak berada dalam pengawasan orang tua.

Baca Juga  Pencabulan Anak Berulang, Aturan Butuh Ditata Ulang

Jika orang tua pun dapat mengontrol kebiasaan baik yang telah diterapkan oleh sekolah kepada anak, akan adanya sinkronisasi tujuan dan pencapaian antara lingkungan sekolah dan rumah.

Seperti contoh, ketika anak di sekolah dilarang untuk menggunakan gadget (handphone).

Penggunaan gadget secara berlebihan tanpa pengawasan, karena dapat menghambat kesehatan fisik dan mental, bahkan dapat menghambat pencernaan pada otak anak.

Namun, ketika di lingkungan rumah tak ada pengawasan dan batasan yang diberikan kepada anak dalam menggunakan gadget (handphone), maka target pencapaian yang telah ditargetkan oleh guru ataupun sekolah akan terhambat karena pembiasaan yang tidak sama dan malah bertolak belakang antara lingkungan rumah dan sekolah.

Baca Juga  Representasi Jurnalis Anti-Hoaks: Membangun Peradaban Literasi di Era Informasi Digital