Banjir pun Tak Mampu Membendung Semangatnya Mendidik
Mereka dorong bersama, sepatu mereka terlepas, kaki mereka tergores batu aspal, celana basah tapi mereka tak peduli. Napas mereka tersengal, Sampai akhirnya, setelah perjuangan mendorong motor, mereka berhasil keluar dari genangan, terus menerus mereka mendorong bersama mencari bengkel untuk memperbaiki motor yang mati itu.
“Pak, di depan ada bengkel, kita di situ saja, ya,” ujar Pak Damar penuh senyuman.
“Baiklah, Pak,” sahut Pak Suratman.
Didorong mereka lagi motor itu hingga tibalah di bengkel terdekat. Namun, saat tiba di bengkel, Pak Tukang bengkel terkejut melihat kedua guru laki-laki datang dalam kondisi seperti itu.
“Pak, kenapa maksa banget lewat banjir, kenapa tidak mutar atau izin saja?”
Mereka bersama hanya menjawab lirih, “Ada anak-anak yang kami didik, Pak, hujan badai bukanlah penghalang demi mengajar, karena mengajar itu sangatlah penting bagi kami, jiwa kami.”
Setelah 30 menit motor diperbaiki, pak Damar juga pak Suratman melanjutkan perjalanan dengan tubuh yang dingin.
Sampai di sekolah, semua guru telah pergi mengajar, para siswa sudah di kelasnya masing-masing, semuanya tidak ada di luar dan mereka tidak tahu apa yang baru saja dilalui guru mereka.
Terlihat pula di saat Pak Damar berjemur, satu siswa dengan membawa setumpuk buku-buku tugas kebingungan kenapa sang gurunya basah padahal tidak ada hujan.
“Pak, Bapak kenapa, kok, bapak basah?” tanya salah satu murid kelas XI¹ yang kerap disapa Tania.
Pak Damar mencoba tersenyum, “Abis jatuh tadi, Nak,” ujarnya.
“Bapak enggak apa-apa, tapi kan Pak?” tanya siswa itu lagi.
“Enggak, Nak, ya, sudah silakan kumpulan tugas bukunya itu dulu, ya,” kata pak Damar yang masih berjemur mengeringkan celananya yang basah kuyup itu.
Dengan menciumi tangan sang gurunya, siswa itu kembali berjalan menuju ruang guru, satu menit kemudian saat sudah keluar berjalan menuju kelas tepat di jalan, ia dipanggil oleh bapak kepala sekolah.
“Tania, coba kamu tanya wawancara pak Damar dan wakil kurikulum tentang pelajaran hari ini,” ujarnya yang membuat Tania kebingungan.
“Wawancara pelajaran apa, Pak?” tanya Tania.
“Tanya saja ke beliau, ya,” sahut bapak kepala sekolah tersenyum lebar.
Tania langsung berlari menuju kelasnya lalu pergi ke perpustakaan, di perpustakaan itu ia bertemu dengan bapak walik kurikulum yang mengajar mapel fisika, dengan cepat Tania langsung bertanya seluasnya tentang pelajaran tersebut.
Pak Suratman wakil kurikulum langsung menceritakan pelajaran kejadian yang sebenarnya bahwa mereka terjebak banjir di jalan hingga basah.
Tania menunduk tak sanggup berkata apa pun. Hanya dada yang terasa sesak. Lalu, tanpa diminta, ia ceritakan kisah itu ke teman-teman di kelas. Awalnya mereka tertawa tak percaya, lalu perlahan satu per satu tertunduk. Beberapa mulai terisak. Tika, teman sebangku, menutup wajahnya dengan lengan.
“Kenapa guru kita harus sampai segitunya … sementara kita kadang cuma karena malas, hujan sedikit aja, nggak masuk sekolah,” gumam Dito lirih.
Kelas menjadi hening. Tangis lirih terdengar di sudut-sudut ruangan. Hari itu, tidak ada suara canda seperti biasanya. Tidak ada celotehan. Yang ada hanyalah diam yang berat, penuh rasa bersalah, dan kesadaran yang perlahan tumbuh di hati semua. Dan hari itu mereka mendapatkan pelajaran yang lebih besar dari angka, rumus, dan teks bacaan.
Pelajaran tentang ketulusan. Tentang cinta diam-diam dari seorang guru. Tentang baju basah yang menyimpan seribu makna. Dan sejak hari itu, takada satu pun siswa yang memanggil pak Damar dengan nada seenaknya lagi. Karena mereka tahu … di balik senyumnya, ada seorang pahlawan yang tak pernah minta dilihat.
Blitang, 5 Agustus 2025
