Apakah Indonesia Butuh Dokter Revolusioner?
“Namun, bila membaca kembali catatan harian itu hanyalah kecengengan belaka. Sekadar uraian perasaan dan pikiran yang mendatangkan kesedihan. Padahal, gue nggak boleh lengah apalagi kalah oleh kesedihan. Gue harus mampu membuat diri gue sendiri menjadi kuat. Gue sedang melawan kekuasaan Soeharto, sampai mati gue nggak boleh kalah. Kita mesti kuat, meskipun dia (Soeharto) terus menginjak-injak kita,” begitulah tekad Hariman.
Hariman bertekad tak mau kalah dalam menghadapi rezim Soeharto, meski badannya mendekam di penjara. Ia mengenang masa-masa mendekam di penjara: “Di penjara sebenarnya gue sedang berhadapan juga dengan kekuasaan Soeharto dalam wujudnya yang lain. Di penjara kekuasaan itu dimanifestasikan melalui sipir penjara, prajurit penjaga, petugas pengawal, bahkan lewat benda mati seperti tembok dan gembok! Kalau kita sudah dikunci di dalam sel, kita tak bisa melawan kekuasaan tembok dan gembok. Kita tak bisa lagi melawan prajurit dan penjaga penjara yang mengunci sel. Wujud kekuasaan kini berganti. Tidak lagi berupa sosok Soeharto, melainkan bunyi ‘klik’ misterius ketika pintu sel kita digembok dari luar. Dan suara ‘klik’ itu sungguh menimbulkan rasa kebencian yang amat sangat. Karena secara telak kita menyadari bahwa kita sangat tidak berdaya. Tidak memiliki kekuatan perlawanan apa pun, kecuali kepasrahan.”
Apa yang dialami Hariman Siregar adalah peristiwa yang dialami oleh semua dokter revolusioner di dunia. Saya menceritakan bagaimana kakek saya, dr. Sagaf Yahya, dipenjarakan Jepang dan tentu mengalami hal yang sama, ketakutan di dalam penjara, penyiksaan fisik dan psikis sehingga menderita asma berat setelah keluar dari penjara Jepang.
Akibat asma berat, terpaksa menyuntik dirinya sendiri kalau asmanya kambuh. Diminta lengser dari jabatan Residen pertama Jambi dengan alasan kesehatan yang tidak memungkinkan untuk menjalankan pemerintahan. Mungkin alasan lainnya karena politik.
Begitu juga pengalaman ayah saya sebagai mahasiswa yang terlibat di PRRI. Melihat dan menyaksikan temannya sesama mahasiswa kedokteran mati tertembak atau disiksa kalau tertangkap. Cerita ini menjadi penting untuk memahami apakah siap menjadi dokter revolusioner, berperang dengan ketakutan, kelaparan, tersingkirkan, bahkan kehilangan orang-orang yang disayangi.
Bagi saya, menjadi dokter revolusioner adalah seperti pernyataan Hariman Siregar
Hal yang menarik bagi saya tentang Hariman Siregar, dokter revolusioner generasi ketiga yang dijuluki media, adalah pidatonya di ujung tahun 1973 dengan judul “Pidato Pernyataan Diri Mahasiswa” di hadapan dosen dan mahasiswa dari Jakarta, Bogor, dan Bandung. Pidato tersebut begitu menghentak dan meledak-ledak.
Penggalan pidato tersebut adalah: “Kita menerima kenyataan pahit bahwa kenaikan bantuan luar negeri dan modal asing adalah merugikan Indonesia. Masalahnya adalah bahwa sumber-sumber luar tadi tidak menguntungkan rakyat banyak, tidak sampai kepada rakyat banyak.
Jelas, elite penguasa di Indonesia tidak mau bertanggung jawab untuk soal ini. Kepada para koruptor penjual bangsa, pencatut-pencatut sumber alam Indonesia yang mengejar-ngejar komisi sepuluh persen, kami serukan: bersiap-siaplah menghadapi gerakan kami yang akan datang.”
Pernyataan Hariman Siregar tentang bagaimana tugas dokter revolusioner juga sangat menarik. Menurutnya, tugas dokter revolusioner bukan hanya mengobati pasien di pelayanan, tetapi juga menggerakkan revolusi melawan ketidakadilan, kesenjangan sosial, serta melawan penindasan, termasuk memperjuangkan kemerdekaan.
Pertanyaannya adalah: dengan kondisi Indonesia hari ini,
- Apakah sudah harus muncul dokter revolusioner generasi keempat?
- Apakah dokter hari ini sudah siap menghadapi risiko dari perjuangan seperti generasi pertama, kedua, dan ketiga?
- Apakah semangat revolusioner generasi dokter sebelumnya masih ada dalam pemikiran, jiwa, dan dokter Indonesia hari ini?
Jawabannya ada pada diri dokter Indonesia yang membaca tulisan ini. Hidup perjuangan rakyat! Merdeka, merdeka, merdeka 100 persen!
Referensi:
– Husin Akip Cs Kibarkan Bendera di Menara Air –
https://share.google/GQFDgjvHI8jJmz4KZ
– Hasibuan, I., Airlambang, & Yosef Rizal. (2011). Hariman dan Malari: Gelombang Aksi Mahasiswa Menentang Modal Asing. Jakarta: Q-Communication.
– Hariman, Malari, dan Generasi Ketiga Dokter Pergerakan – KBA News https://share.google/RVLQzdqu2JzG530R3
– Peristiwa Malari 1974: Demonstrasi Tolak Kunjungan PM Jepang Kakuei Tanaka Berujung Rusuh | https://share.google/0gfcLK9Ii8qYFFr1x
– PRRI, Uji Nyali Orang Minang Lawan Soekarno – Prokabar https://share.google/WJaaVJ5rXvJ1PX4er
– Zainuddin, R., dkk. (1978/1979). Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jambi. Jakarta: Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Tentang Novita Sari Yahya
Penulis telah meneribtkan buku:
- Romansa Cinta
- Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
- Novita & Kebangsaan
- Makna di Setiap Rasa, antologi 100 puisi bersertifikat lomba nasional dan internasional
- Siluet Cinta, Pelangi Rindu
- Selflove: Rumah Perlindungan Diri
Kontak pembelian buku: 089520018812
Instagram: @novita.kebangsaan
