Ketika debat Capres/Cawapres 2024 lalu, Prabowo-Gibran berjanji menciptakan 19 juta lapangan kerja. Janji ini tertuang dalam Asta Cita pemerintahan Prabowo-Gibran, yang bertujuan untuk meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, mendorong kewirausahaan, dan mengembangkan industri kreatif.

Beberapa strategi yang akan digunakan untuk mencapai target ini adalah:

Hilirisasi Industri: Pengembangan industri hilir di dalam negeri untuk menciptakan lebih banyak pekerjaan bagi masyarakat, tidak hanya di sektor pertambangan tetapi juga pertanian, maritim, dan digital.

Pemerataan Pembangunan: Mendorong pemerataan pembangunan, terutama di luar Pulau Jawa, untuk menciptakan lebih banyak peluang kerja.

Transisi Energi Hijau: Membuka lapangan kerja berbasis keberlanjutan lingkungan melalui transisi energi hijau, dengan target 5 juta pekerjaan di sektor ramah lingkungan (green jobs).

Penguatan Ekonomi Kreatif dan UMKM: Mendorong ekonomi kreatif dan UMKM sebagai penggerak utama ekonomi lokal.

Baca Juga  "Menang Segek, Kalah Pancak"

Namun, realisasi janji ini masih belum terlihat secara konkret. Banyak masyarakat yang mempertanyakan apakah janji tersebut bisa benar-benar direalisasikan, terutama dengan adanya gelombang PHK di berbagai sektor saat ini. Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi krisis ketenagakerjaan dan memenuhi janji kampanye

Solusi dan Strategi Negara Lain

Negara-negara lain memiliki strategi yang berbeda-beda dalam mengatasi pengangguran. Berikut beberapa contoh (https:www.haloniaga.com.):

Jepang, memberikan pelatihan keterampilan kepada pengangguran, meningkatkan akses ke pasar kerja, dan mendorong kewirausahaan.

Jerman,  mengembangkan sistem pendidikan yang kuat dan program pelatihan keterampilan yang efektif untuk mengurangi tingkat pengangguran.

Korea Selatan, menerapkan kebijakan yang fokus pada pembangunan teknologi dan industri inovatif untuk membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan daya saing ekonomi nasional.

Baca Juga  Di Hadapan Allah, Saldo Tak Punya Suara

Singapura, mendorong investasi asing dan pengembangan industri inovatif, serta memberikan pelatihan keterampilan dan program bantuan untuk pengangguran.

Beberapa strategi umum yang digunakan negara-negara lain untuk mengatasi pengangguran adalah:

Meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan keterampilan, Seperti yang dilakukan oleh Finlandia dan Austria.

Memberikan insentif untuk mendorong kewirausahaan, seperti yang dilakukan oleh Singapura dan Korea Selatan.

Melakukan kebijakan fleksibilitas dalam pasar tenaga kerja, seperti yang dilakukan oleh Denmark dan Norwegia.

Mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi, seperti yang dilakukan oleh Jepang dan Australia.

Memberikan dukungan bagi sektor tertentu yang berpotensi besar dalam menciptakan lapangan kerja, seperti yang dilakukan oleh Jerman dan Amerika Serikat.

Selain itu, beberapa cara lain untuk mengatasi pengangguran adalah:  mengintensifkan pendidikan dan pelatihan keterampilan  (shorcourse). Meningkatkan kualifikasi individu untuk membuat mereka lebih berdaya saing di pasar kerja.

Baca Juga  Jangan Jadikan Kampus sebagai Pabrik Robot Berijazah

Mendorong wirausaha, memberikan dukungan kewirausahaan UMKM untuk mendorong lebih banyak orang memulai usaha mereka sendiri.

Program magang dan praktik kerja, memberikan pengalaman kerja langsung kepada individu untuk meningkatkan kualifikasi dan membangun jaringan profesional.

Menyelenggarakan bursa kerja, mengadakan bursa kerja untuk mempertemukan pencari kerja dengan pemberi kerja. Biasanya dibantu bursa kerja oleh berbagai kampus.

Bom Waktu

Bagaimanapun tingginya angka pengangguran dapat dikata menyimpan “bom waktu” karena dapat memicu berbagai masalah sosial, ekonomi,  politik dan hukum yang serius jika tidak ditangani dengan efektif. Ancaman yang paling serius   dari tingginya angka pengangguran dapat meningkatkan frustrasi dan ketidakpuasan masyarakat terutama terhadap pemerintah, yang dapat memicu kerusuhan sosial dan demonstrasi besar seperti terjadi beberapa waktu lalu.