Punggur Bedaun
Penulis: Yoel Chaidir
Men agik tegak Punggur
Tetep bakal tumboh daun
Biar hanye tulang ken kulit
Tetep idup nyawe di badan
(Jika masih tegak pokok batang kayu
Tetap bakal tumbuh daun
Biar hanya tulang dan kulit
Tetap lah hidup nyawa di badan)
Berkat kun payakun, jadi maka jadi lah
Mendengar kalimat kata tua pada bait di atas, bulu kudukku langsung merinding.
***
Menjelang malam di sudut pondok bertiang sembilan dan berdinding kulit kayu.
Bangunan itu berlantai anak anak kayu dengan atap dari rumbia.
Mengepul asap dari perapian dupa atau lebih dikenal dengan “pedupen” yang telah beberapa kali ditaburi kemenyan oleh pemilik pondok.
Di sebuah kebun yang kini hanya tinggal beberapa pohon cempedak dan durian serta tiga pokok manggis yang masih tegak berdiri.
Adalah unggal kulup yang kami sambangi malam itu dengan harapan bisa memetik informasi tentang ilmu punggur bedaun yang pernah kami dengar dari Abuk (kakek) kami dulu.
Unggal (sebutan untuk Anak tunggal) adalah salah seorang yang banyak memiliki berbagai ilmu ilmu kebatinan asli Bangka Selatan termasuk ilmu Punggur bedaun.
Aku dan Ridwan masih duduk terdiam setelah beberapa saat kami tiba di pondok yang hanya diterangi pelita dari lampu minyak.
Mulut Unggal kulup komat kamit entah apa yang dibicarakan di hadapan pedupen yang penuh dengan bara api dari arang arang kayu.
Semerbak harum bau kemenyan di saat kepulan asap keluar dari pedupen yang terbuat dari tanah liat (tanah palit).
“Lebih baik urungkan niat kalian berdua,” Suara berat unggal kulup membuka percakapan malam itu tanpa menoleh ke kami yang sedari tadi diam mengamati apa yang ia lakukan.
