Menapaki Jalan Panjang, Menjemput Mimpi
“Nak, ingatlah satu hal, keterbatasan ini bukan berarti kamu jatuh, ingatlah Allah itu tidak pernah tidur, kami yakin suatu hari nanti langkahmu akan sampai pada tujuan.”
Kalimat kedua orang tuaku itulah yang selalu menjadi penyemangat hingga saat ini. Mereka selalu membuatku bangkit terus berjuang dengan keras.
Ya, meskipun kini aku sudah duduk di bangku kuliah sebagai mahasiswa baru semester satu, tetapi langkah kakiku masih sama seperti dulunya.
Yang harus berjalan kaki bertahun-tahun hanya demi pendidikan, menapaki jalan panjang menuju harapan masa depan.
Aku berjanji pada diri sendiri dengan harapan langkahku ini bahwa aku suatu saat nanti, tepatnya 4 tahun mendatang, bisa berhasil berdiri di panggung wisuda dengan toga di pundak, berhasil memasangkannya kepada kedua orang tuaku penuh kebahagiaan haru.
Aku menangis bukan karena lelah tetapi karena doaku sudah terjawab dan ketika waktu itu tiba nantinya aku akan selalu berkata kepada diriku sendiri.
“Alhamdulillah, aku lulus …, aku gadis desa dari keluarga sederhana dengan segala keterbatasan hidup kini berhasil mewujudkan mimpi yang telah lama aku impikan, berhasil menciptakan sarjana pertama S-1 di keluargaku. Kini segala tangisku, perjuanganku terbayarkan., Terima kasih diriku karena sudah kuat berjuang sejauh ini.”
Catatan singkat dari tulisan goresan penaku: Aku menuliskan kisah sederhana ini untuk mengingatkan diri sendiri bahwa meskipun jalan hidupku penuh keterbatasan, semangatku tidak boleh padam.
Kaki sering lelah, hati sering menangis, tetapi mimpiku akan tetap hidup selamanya dan selama aku masih bisa melangkah, aku akan terus berjalan dengan kedua kakiku dalam mencapai impianku.
Serta ingin membuktikan bahwa anak keluarga sederhana pun bisa meraih impian besar kesuksesannya. Dan suatu saat nanti ketika toga itu telah terpakai, setiap langkah kaki sederhanaku akan menjadi bukti bahwa mimpi tidak pernah memandang siapa kita, melainkan seberapa jauh kita mampu berjuang menggapainya.
Pangkalpinang, 20 September 2025
Biodata penulis: Penulis bernama asli Putri Rahmawati dengan nama pena Putri Simba seorang mahasiswa baru dari universitas Muhammadiyah Bangka Belitung. Yang biasa dikenal sebagai jurnalis muda serta penulis muda asal Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ia tinggal di Tran 1 Simpang Rimba RT 03/RW 02, Kecamatan Simpang Rimba, sebuah tempat sederhana yang menjadi saksi awal perjuangannya.
