Oleh: Rapi Pradipta

Naya mulai menunggu sejak sore, sejak matahari belum sepenuhnya rendah. Ia menyebutnya menunggu, meski sebenarnya yang ia lakukan hanyalah memperlambat waktu.

Membersihkan kamar yang sudah cukup bersih, menyeduh teh lalu membiarkannya dingin, memeriksa ponsel berkali-kali tanpa alasan. Ada malam yang ingin ia sambut, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak ingin melewatinya sendirian.

Naya hidup sederhana, bukan karena pilihan besar, melainkan karena hidup memang memberinya itu. Lingkar pertemanannya kecil, pekerjaannya biasa, hari-harinya jarang menuntut kejutan. Ia lahir tahun sembilan dua, usia yang sering membuat orang bertanya dengan nada bercanda yang terlalu serius. Kapan menikah. Kapan ada cerita baru. Kapan hidup berubah.

Baca Juga  Kapan Bapak Jualan?

Naya biasanya tersenyum dan mengalihkan pembicaraan.

Sore itu, ia berdiri lama di depan lemari. Tidak banyak pilihan. Beberapa potong baju yang sering ia pakai, satu yang jarang disentuh karena terasa terlalu istimewa untuk hari biasa. Ia memilih yang terakhir. Bukan yang paling baru, tapi yang membuatnya merasa rapi tanpa harus berusaha keras.

Ia ingin terlihat seperti dirinya sendiri, versi yang pantas untuk sebuah kemungkinan.
Janji itu sederhana. Tidak disebut kencan, tidak juga didefinisikan sebagai apa-apa. Hanya bertemu, katanya. Ngobrol sebentar. Tapi bagi Naya, kata bertemu sudah cukup berat untuk dipanggul dengan harapan.

Ia mengenalnya tidak lama. Percakapan mereka tumbuh perlahan, lewat pesan-pesan singkat yang tidak selalu rutin. Ada jeda, ada hari kosong, ada malam di mana Naya merasa terlalu antusias sendiri. Tapi tetap saja, benih itu muncul. Tipis, rapuh, dan karena itulah terasa langka.

Baca Juga  Melawan Riuh

Menjelang magrib, Naya mandi lebih lama dari biasanya. Ia merapikan rambut dengan cermat, memoles wajah sekadarnya. Tidak berlebihan. Ia tidak ingin terlihat seperti sedang berusaha terlalu keras, meski sesungguhnya ia memang sedang berusaha.

Jam dinding di kamarnya berdetak jelas. Suaranya mengisi ruang, seolah mengingatkan bahwa waktu tidak pernah benar-benar berpihak pada siapa pun. Enam lewat tiga puluh. Enam lewat empat puluh lima. Naya duduk di tepi ranjang, ponsel di tangannya, napasnya sedikit lebih pendek.

Tepat pukul tujuh. Ponsel bergetar.

Pesan itu datang dengan nada yang datar. Tidak panjang. Tidak bertele-tele. Tidak bisa bertemu malam ini. Ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Maaf.

Baca Juga  Sahur Pertama

Naya membaca pesan itu sambil berdiri. Lalu duduk. Lalu bersandar. Ada jeda di dalam dirinya, seperti sesuatu yang terhenti tanpa sempat bergerak. Ia tidak langsung sedih. Yang datang lebih dulu adalah kebingungan. Seperti seseorang yang sudah membuka pintu, tapi mendapati tangga di baliknya hilang.