Ia membalas dengan kata tidak apa-apa. Kalimat aman yang sudah terlalu sering ia gunakan dalam hidup. Lalu ponsel diletakkan di sampingnya.

Ia menatap baju yang masih rapi di tubuhnya, sepatu yang belum disentuh, tas kecil yang sejak sore sudah disiapkan.

Malam yang semula terasa istimewa mendadak kembali menjadi malam biasa, hanya saja dengan sisa-sisa persiapan yang tak terpakai.

Naya masuk kembali ke kamarnya, menutup pintu, dan duduk di lantai. Di ruangan itu, ia merasa lebih kecil, tapi juga lebih jujur. Ia membiarkan kesedihan datang pelan, tidak meledak, tidak dramatis. Hanya rasa yang menumpuk, seperti hujan tipis yang tidak deras tapi terus-menerus.

Baca Juga  Dicegat Tuyul

Ia teringat pada dirinya yang sering merasa sulit disuka. Bukan karena ia buruk, tapi karena ia tidak pandai menonjol. Ia hadir dengan cara yang tenang, dan dunia jarang berhenti untuk hal-hal yang tenang. Ia bukan figur yang ramai, bukan yang mudah diingat. Dan mungkin karena itu, setiap kali ada yang mendekat, ia menaruh makna terlalu besar.

Di atas ranjang, ia berbaring sambil menatap langit-langit. Ia memikirkan semua hal kecil yang tadi ia rencanakan. Jalan yang akan dilalui. Kursi yang mungkin akan dipilih.

Percakapan ringan yang sudah ia siapkan dalam kepalanya. Semua itu kini tidak punya tempat untuk terjadi.
Beberapa waktu berlalu. Jam sudah lewat delapan. Ponselnya masih diam. Naya mengangkatnya, menimbang-nimbang. Ada rasa takut terlihat terlalu berharap, terlalu menunggu. Tapi ada juga keinginan untuk tidak menghilang begitu saja.
Ia mengetik pesan. Menghapusnya. Mengetik ulang.

Baca Juga  Aku Juga Punya Luka

Kata-katanya sederhana, bahkan nyaris polos.

“Kapan ada waktu lain lagi?” Ia mengirimkannya sebelum ragu kembali datang.

Setelah itu, Naya meletakkan ponsel di dada, memejamkan mata. Ia tidak tahu apakah pesan itu akan dibalas cepat, lambat, atau tidak sama sekali. Tapi setidaknya, ia tidak memendam pertanyaan itu sendirian.

Malam terus berjalan. Di luar, suara kendaraan berkurang. Di dalam, Naya masih terjaga. Ia tahu, mungkin besok ia akan kembali pada rutinitasnya yang biasa. Tapi malam ini, meski berakhir dengan kemurungan, tetap menyisakan sesuatu yang berbeda.

Karena Naya telah menunggu. Telah berharap.

Dan telah berani bertanya. Dan bagi seseorang seperti Naya, itu sudah merupakan bentuk keberanian yang tidak kecil.

Baca Juga  Buku "Lawang Uma" Karya Rapi Pradipta, Selalu Ada Pintu yang Menantinya untuk Pulang