Pengolahan Lahan Padi Ladang Berkelanjutan, Tradisi Memerun Menuju PLTB
Pengolahan lahan tanpa bakar menjadi upaya dalam mendukung pencegahan bencana kebakaran lahan sekaligus pengelolaan lahan berkelanjutan.
Praktik-praktik seperti konservasi tanah, rotasi tanaman dan penggunaan pupuk organik menjadi kunci dalam menjaga kesuburan tanah dan memastikan produktivitas yang berkelanjutan.
Pengolahan Lahan Padi Ladang Berkelanjutan
Padi ladang merupakan tanaman semusim jenis padi (Oryza sativa L.) yang diusahakan di tanah tegalan kering secara menetap dan kebanyakan ditanam di daerah tropis. Pemilihan varietas padi yang sesuai dengan karakteristik lingkungan lokal tidak boleh diabaikan. Varietas yang tahan terhadap hama penyakit dan cocok dengan kondisi iklim serta tanah setempat dapat meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan pertanian.
Pengolahan padi ladang secara berkelanjutan dapat dilakukan untuk mengurangi dampak buruk dari cara bertani lama yang masih sering melibatkan pembakaran lahan. Solusi yang dapat ditawarkan yaitu dengan beralih ke pertanian konservasi dengan melakukan teknik PLTB.
PLTB dilakukan dengan mengurangi olah tanah berlebihan dan mempertahankan sisa tanaman di lading untuk menjaga kelembaban, mencegah erosi, serta meningkatkan bahan organik dan keanekaragaman hayati.
Pengolahan lahan tanpa bakar memberikan nihil polusi udara dan masalah kesehatan. Kematian flora dan fauna cenderung dapat dikendalikan dan tidak merusak lahan.
Risiko kebakaran kecil karena masyarakat memiliki kecenderungan membiarkan sisa tebasan yang berukuran kecil sebagai pupuk. Sementara limbah lain biasanya dikumpulkan di satu titik untuk dibiarkan membusuk.
Salah satu penerapan pengolahan tanah tanpa pembakaran yaitu penggunaan asap cair dan briket sebagai salah satu alternatif.
Penerapan teknologi ini tidak hanya membantu mencegah kebakaran, tetapi juga meningkatkan produktivitas lahan dan ramah lingkungan.
Penyiapan pengolahan lahan tanpa bakar juga dapat dilakukan dengan penggunaan escavator untuk membersihkan alang-alang atau semak, pengolahan tanah dengan traktor roda 4 berturut-turut dengan piringan dan rotary. Selanjutnya, penggunaan dekomposer untuk pelapukan bahan organik dan aplikasinya disertai dengan olah tanah.
Penggunaan dekomposer pada prinsipnya adalah usaha untuk mempercepat dekomposisi bahan organik terutama terhadap sisa tanaman berkayu.
Namun di tingkat implementasi cara ini tidak sepenuhnya berhasil karena didapati kendala dan tantangan. Dari sisi ekonomi, biaya penerapannya cenderung lebih besar, sehingga persepsi penerapannya tidak optimal.
Untuk itu, strategi yang dapat dilakukan antara lain menyiapkan sumber permodalan dengan menggandeng BUMDes untuk masyarakat memperoleh modal pengolahan lahan dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ekosistem alam melalui peran Petugas Penyuluh Lapangan (PPL).
Diperlukan perhatian serta peran penting pemerintah sebagai langkah preventif untuk meminimalisir agar ke depannya tidak ada lagi pengolahan lahan dengan cara membakar.
Dengan memperhatikan keseimbangan lingkungan hidup dibutuhkan sikap komitmen pemerintah dalam hal regulasi terhadap masyarakat. Pertanian lahan tanpa bakar (PLTB) digencarkan untuk mendukung pengolahan lahan berkelanjutan. (*).
