Petani Sawah dan Masa Depan Kita
Di tanah yang sempit ini, kita seolah punya kecenderungan aneh: lebih cepat membuka ruang untuk tambang, ketimbang menyiapkan lahan pertanian. Timah selalu tampak lebih menjanjikan, lebih menggiurkan. Tapi kita lupa, timah tidak bisa dimakan.
Apa artinya menumpuk kekayaan dari kegiatan ekstraktif, jika di meja makan kita tetap mengandalkan beras kiriman dari luar? Saat ini, lebih dari 80 persen kebutuhan pangan Bangka Belitung didatangkan dari provinsi lain.
Ketahanan pangan lokal kita bahkan belum sampai 20 persen. Masih belasan persen saja. Mau sampai kapan kita menjadi penonton di tanah sendiri?
Beras dari Rias bukan sekadar butiran putih di piring. Ia adalah simbol kedaulatan, ketahanan, dan harapan. Setiap bulirnya menyimpan kisah petani yang berjuang melawan keterbatasan.
Maka, kebijaksanaan dalam mengurus pangan bukan sekadar soal kuota, harga pembelian, atau surat perintah dari pusat. Ia adalah soal arah besar: mau dibawa ke mana Bangka Belitung?
Apakah kita akan terus mengandalkan tambang sebagai penopang ekonomi, sambil membiarkan lahan-lahan pertanian tersingkir? Atau kita berani berinvestasi pada tanah yang menumbuhkan padi, meski hasilnya mungkin tidak secepat tambang? Tambang memang bisa memberi kilauan hari ini. Tapi sawah memberi harapan esok hari.
Jika kita benar-benar memikirkan generasi mendatang, maka menjaga sawah, melindungi petani, dan memastikan beras lokal tetap ada, adalah investasi besar. Lebih besar dari sekadar menambang timah hingga habis.
Sebab, apa artinya pembangunan jika generasi setelah kita hanya mewarisi lubang-lubang bekas tambang, tanpa tanah subur untuk ditanami? Apa artinya kemajuan jika anak cucu kita nanti hanya bisa mengenang bahwa di tanah ini, dulu pernah ada sawah yang kini lenyap?
Harapan dari Rias
Kisah di Desa Rias ini seharusnya menjadi cermin. Bahwa kita butuh kesungguhan lebih dalam mengelola pangan. Bahwa petani harus diberi tempat utama, bukan sekadar pelengkap dalam narasi pembangunan.
Kita tidak bisa lagi membiarkan kebijakan pangan berjalan setengah hati. Tidak bisa terus bergantung pada daerah lain untuk memenuhi kebutuhan pokok kita.
Bangka Belitung harus berani berkata: kami bisa menanam, kami bisa makan dari tanah kami sendiri. Dan semua itu bermula dari keberanian memberi perhatian lebih pada desa-desa seperti Rias, Serdang, Banyuasin dan desa penghasil padi lainnya.
Merenungi beras berarti merenungi masa depan. Sebab beras bukan sekadar soal makan hari ini, melainkan soal keberlangsungan hidup besok.
Kebijaksanaan hari ini adalah memastikan tanah yang tersisa benar-benar dijaga. Bukan terus memenuhi hasrat jangka pendek lewat penumpukan kekayaan dari tambang. Sebab, di balik butir padi, tersimpan kedaulatan. Dan di balik sawah, tersimpan harapan.
Jika kita masih ingin anak cucu kita duduk di meja makan dengan tenang, menyendok nasi dari sawah yang tumbuh di tanah sendiri, maka pilihan itu harus kita buat sekarang.
Lebih baik berinvestasi pada sawah yang memberi kehidupan, daripada pada tambang yang hanya memberi kilauan sesaat.
Dan harapan, bukankah itu yang paling kita butuhkan?
