Oleh: Yoel Chaidir

“Tadi di sini ada bercak darah yang masih basah,” kata Umar kepada warga yang ronda malam itu.

Ia ingin meyakinkan bahwa itu benar benar terjadi sambil mengeluarkan keris yang belum sempat dicuci.

Keris itu selalu disimpan di bagasi sepeda motor.

“Ya…itu masih basah darahnya,” ujar Safar dengan tangan menggenggam senter mengarahkan ke bercak darah yang tertinggal di tanah. Beberapa pria lalu meninggalkan tempat itu dengan sejumlah tanya.

***

Sepasang mata menyorot tajam ke arah Umar malam itu.

Tubuhnya yang gemuk ditopang empat kaki dengan dua taring menyeringai.

Tampak dengan bulu bulu hitam menutupi seluruh tubuhnya yang terpaku. Ia tersorot lampu depan motor yang Umar hentikan seketika saat melintas jalan itu.

Baca Juga  Membaca Kota Menerjemahkan Musim

Sudah lebih dua minggu ini tersiar kabar masyarakat kampung dihebohkan dengan penampakan makhluk berupa seekor babi berkepala manusia.

“Malam ini, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri,” ujar Umar yang merupakan tokoh masyarakat yang ada di kampung itu.

Menurut penuturan beberapa orang yang ditemui, mereka mengiyakan keberadaan mahluk berupa babi berkepala manusia tersebut.

Dan hal itu terjadi saat seseorang yang menguasai ilmu hitam meninggal dunia, namun ilmunya tak sempat dibuang.

Orang orang terdahulu menyebutnya mati tak diterima bumi.

Mereka akan gentayangan dengan wujud babi berkepala manusia.

Penampakan makhluk itu yang sesungguhnya adalah berharap agar orang yang berpapasan dengannya bisa membunuhnya sehingga ia mati dengan wajar dan tidak gentayangan lagi.

Baca Juga  Luka Berakar di Atas Kertas