Namun untuk membunuh sang babi berkepala manusia bukanlah hal yang mudah.

Makhluk ini kebal bacok.

Itu harus  dilakukan oleh orang orang yang memang memiliki ilmu agar senjata yang digunakan bisa menembus tubuh sang Babi Petare.

***

Keris itu ditancapkan Umar ke tanah.

Ia merapal aji-ajian yang telah diajarkan orang tuanya.

Hanya sekali hentakan, pria itu berhasil menembus jantung sang babi itu.

Hanya sekali raungan, babi berkepala manusia roboh terkapar di tengah jalan.

Setelah memastikan makhluk mati, Umar lalu mencabut keris yang masih tertancap di tubuh sang babi.

Umar merasa tak mungkin untuk mengangkat tubuh babi tersebut.

Ia bergegas melaju sepeda motornya ke pos ronda yang berada di ujung kampung tak jauh dari pasar.

Baca Juga  Bangka Selatanku Tercinta

Beberapa orang bertugas ronda kampung langsung beranjak untuk memindahkan babi itu.

Namun ketika sampai, mereka hanya menemukan bercak darah yang masih basah di tanah.

Walahualam bissawaf, entah hilang kemana mahluk tersebut hingga hanya meninggalkan jejak bercak darah yang terlihat jelas masih basah dan belum mengering.

Setelah kejadian tersebut warga kampung tidak lagi dihantui oleh makhluk seekor babi berkepala manusia yang sering disebut Babi Petare.

Kejadian seperti ini berakhir sekitar tahun 90an yang lalu dan kini tinggal kenangan yang tak terlupakan oleh Umar dan warga kampung.