Oleh: Erik Juliawan

Pagi itu, mentari muncul dengan kehangatan yang lembut. Langit biru tanpa mendung, angin berhembus bersahabat seakan ikut merayakan sebuah momen penting dalam hidup Ariz.

Di usianya yang genap ke-22 tahun, ia akhirnya menyelesaikan pendidikan kuliahnya tepat 3 tahun 8 bulan dengan tuntutan beasiswa dan keterbatasan yang dipunya. Toga hitam di atas kepalanya, senyum merekah, dan sorak-sorai keluarga mengiringi langkahnya menuju panggung wisuda.

Bagi Ariz hari itu ialah hari yang sangat bersejarah dalam hidupnya seakan terasa benar-benar sempurna. Ariz menggenggam erat ijazahnya sambil berkata dalam hati, “Alhamdulillah, hari yang aku tunggu-tunggu telah tiba, dan pencapaian ini akan menjadi tiket menuju masa depan. Setelah ini, aku pasti akan segera bekerja dan membahagiakan kedua orang tuaku.”

Baca Juga  Hilang Arah

Namun ternyata, kehidupan tidak sesederhana yang ia bayangkan. Setelah pesta usai, Ariz berhadapan dengan kenyataan pahit. Melamar pekerjaan tidak semudah yang ia kira.

Surat lamaran dikirim ke sana-sini, wawancara dijalani dengan penuh harap, tetapi jawaban yang datang hanya “terima kasih, belum sesuai kualifikasi” atau bahkan tak ada kabar sama sekali.

Hari berganti minggu, minggu berubah menjadi bulan. Hingga genap satu tahun berlalu, Ariz masih belum juga mendapatkan pekerjaan. Hari-harinya di isi dengan nongkrong segelas kopi sembari merenung memikirkan nasib dan harapan akankah ada keajaiban di luar sana.

Semangat yang dulu begitu besar mulai meredup. Malam-malam sering dihantui pertanyaan getir didalam pikirannya, “Apakah aku sudah salah langkah? Apakah gelar ini hanya selembar kertas tanpa makna?”

Baca Juga  Apa Itu Pantun?, Ini Penjelasan Pengertian, Ciri-ciri, dan Jenis-jenisnya

Di ambang putus asa, Ariz memilih untuk tidak menyerah. Ia sadar, hidup bukan hanya tentang gelar yang tertera di ijazah, melainkan tentang kesabaran dan ketekunan untuk terus berusaha.

Ia menyingkirkan gengsi, mencoba berbagai pekerjaan banting tulang yang tidak menentu hasilnya demi bertahan hidup dan membantu ekonomi keluarga.

Berulang kali ia menata ulang semangatnya, seraya berkata kepada diri sendiri “Kenapa aku harus malu atau gengsi, apa salahnya lagipula aku mencari rezeki dengan cara yang halal juga kan.” Ia selalu meyakinkan diri dengan perkataan itu disetiap memulai apa yang ia kerjakan, supaya bisa membuat lega dan sedikit menenangkannya.

Malam itu, Ariz duduk termenung di tepi ranjang. Matanya merah, bekas air mata masih tampak jelas. Ia baru saja menerima kabar penolakan dari perusahaan yang sudah ia harapkan sejak lama. Namun kesekian kalinya ia tetap gagal.

Baca Juga  Doa untuk Hafidzah

Suasana kamar hening, hanya suara detak jam dinding yang terdengar. Tak sanggup memendam perasaan sendiri, Ariz berjalan pelan ke ruang tamu, tempat ibunya sedang duduk sambil melipat pakaian.

“Ibu…,” suara Ariz lirih, hampir seperti bisikan.