Sang ibu menoleh, menatap wajah anaknya yang pucat. “Ada apa, Nak?” tanyanya lembut.

Ariz tak mampu lagi menahan. Ia duduk di samping ibunya dan seketika air matanya jatuh deras. “Bu, kenapa semuanya sulit sekali? Sudah setahun lebih aku melamar pekerjaan, tapi belum juga ada yang menerima. Rasanya aku capek, aku takut mengecewakan Ibu dan Ayah.”

Sang ibu menghela napas pelan. Tangannya yang hangat mengusap kepala Ariz, lalu menariknya ke dalam pelukan. “Nak, dengarkan Ibu. Hidup memang penuh dengan cobaan.

Tidak ada yang mudah. Tapi bukan berarti cobaan itu untuk menjatuhkanmu. Semua itu untuk membuatmu lebih kuat, lebih sabar, dan lebih menghargai setiap proses.”

Ariz terisak, lalu bertanya lirih, “Tapi sampai kapan, Bu? Aku merasa tidak sanggup lagi…”

“Justru di saat kamu merasa tidak sanggup, di situlah sebenarnya kamu sedang belajar menjadi lebih kuat,” jawab ibunya bijak. “Ingat, Nak, kita menjalani hidup ini bukan sendirian. Ada Ibu, ada Ayah, ada keluarga yang selalu mendoakanmu. Jangan ukur kebahagiaan hanya dari cepatnya mendapat pekerjaan. Ukur dari seberapa sabar dan ikhlas kamu bisa bertahan. Percayalah, semua ada waktunya. Kamu harus semangat dan tidak boleh berputus asa nak dan Ariz harus yakin pada diri sendiri dalam menjalani setiap proses dalam kehidupan. Lagipula Ibu dan Ayah tidak pernah menuntut harus jadi seperti orang-orang yang Ariz lihat di luar sana, melihat kondisi Ariz sehat dan ceria saja Ibu dan Ayah turut bahagia.”

Baca Juga  Palestina

Kata-kata itu menetes ke hati Ariz seperti embun di tanah kering. Pelukan ibunya membuatnya merasa aman, seolah semua beban bisa dibagi, meski hanya lewat cerita.

Malam itu, Ariz tertidur dengan tenang di pangkuan ibunya. Dalam hati ia berjanji, bahwa ia tidak akan menyerah. Sebab ia tahu, di balik setiap perjuangan yang berat, selalu ada doa ibunya yang mengiringi dan selalu ada cinta keluarga yang menjadi alasan untuk terus bangkit.

Satu tahun berlalu, akhirnya pada lamaran yang ke-11, sebuah kabar baik datang. Ia diterima di sebuah perusahaan besar yang sebelumnya bahkan tak pernah ia pikir dan bayangkan kalau dirinya bisa diterima diperusahaan itu dengan berbagai kualifikasi, yang ia tahu hanya mencoba dan terus mencoba di setiap kesempatan yang ada. Perasaan haru menyelimuti dirinya, bukan hanya karena akhirnya bekerja, tetapi karena ia telah mengenal arti sebenarnya dari perjuangan.

Baca Juga  Fana Merah Jambu

Ariz tersenyum menatap langit pagi yang cerah, sama cerahnya dengan pagi setahun yang lalu saat ia diwisuda. Bedanya kini, ia mengerti kehidupan pasca kuliah memang keras, tetapi justru di situlah manusia belajar untuk tumbuh, ditempa oleh kesabaran dan kerja keras.

Hari itu, Ariz melangkah ke babak baru dengan hati yang lebih kuat. Walau dalam hati ia sadar, pekerjaan ini tidak menjamin akan bertahan lama. Kontrak bisa habis, peluang bisa bergeser, bahkan tantangan dunia kerja bisa saja lebih berat daripada sekadar mencari lowongan. Namun kali ini, Ariz tak lagi gentar. Ia tidak lagi berpegang pada kepastian, melainkan pada keyakinan bahwa ia bisa tumbuh melalui setiap proses.

Baca Juga  Aku untuk Aku

Saat melangkah masuk ke ruang kantor untuk pertama kalinya, Ariz menghirup udara dalam-dalam. Ada rasa asing dari wajah-wajah baru, ada aturan yang harus ia pelajari, ada tanggung jawab yang menuntut kesabaran. Tapi justru semua itu membuatnya merasa hidup.

Ia teringat kata-kata ibunya “Setiap tantangan itu bukan untuk menjatuhkanmu, melainkan untuk menguatkanmu.”

Hari itu, Ariz melangkah ke babak baru dengan hati yang lebih kuat. Meski masa depan belum pasti, ia tahu satu hal bahwa keberanian untuk mencoba adalah kemenangan pertama. Dan dengan itu, ia siap menghadapi dunia kerja bukan dengan ketakutan, melainkan dengan tekad untuk terus tumbuh dan berproses.