Kita pun saling sapa, meski apa adanya.
Berlanjut diantara sibuknya acara pentas pelipur lara.
Pentas lomba baca puisi, sampai jadi juri.
Sungguh ada getaran lain.
Pada bayangan bathin yang selalu mampir setiap pertemuan.

Entah kenangan itu tiba-tiba muntah.
Berhambur di jalan jalan yang pernah kita singgahi.
Menggoreskan cerita asmara anak SMA.
Menyisakan kenangan lara.

Kutulis puisi ini.
Saat terkapar opname di rumah sakit.
Hening dikepung sepinya sepi, dalam mengenang nyanyian pelipur lara.
Yang kau gumamkan dengan nada sumbang.
Di tengah rasa sakit ini menggerogoti kenangan lara.

Sungailiat, akhir September 2025.

Baca Juga  Rakasha