***

Sunset kian hilang berganti sinar bulan yang temaram. Keduanya diam, hanya saling tatap.

“Jadi kamu serius memaksa aku meminum ini untuk membuktikan Andi bukan pacarku?”

“Aku tidak takut.” Rindu menarik botol racun yang masih dalam genggaman Derry.

Ia dengan cepat membuka penutup botol. “Gluk..gluk..gluk.”

Tiga tegukan melewati kerongkongan Rindu. “Rindu… mengapa kau nekat seperti ini,” teriak Derry tak menyangka.

Tangannya langsung merampas botol racun itu. “Katanya kamu ingin.. ini sudah aku buktikan,” jawab Rindu berusaha tenang.

Tiba-tiba Rindu sempoyongan. Ia mual dan muntah. Badannya lemas. Rindu duduk menyender di antara pepohonan.

Rindu tak kuat menahan tubuhnya. Ia lalu terbaring. Mulutnya terlihat mengeluarkan busa kecil. Namun mata Rindu masih melihat ke arah Derry.

Baca Juga  Engkau Pelitaku

“Rinduuu..” teriak Derry. Derry dalam kondisi kalut langsung mengambil botol racun itu.

“Kalau kamu mati, aku akan ikut denganmu…” teriak Derry sambil menangis.

Ia menenggaknya lebih dari setengah botol. Pria muda itu sempoyongan. Beberapa kali ia terlihat muntah. Ia lalu terjatuh tak jauh dari Rindu.

Tangannya berusaha menggapai tangan Rindu. Tubuhnya kian lemah dan akhirnya tak bergerak.

Jarak mereka hanya dua meter saja. Rindu berusaha menguatkan hatinya dan menggeser tubuhnya ke arah Derry.

Tangannya berhasil menyentuh tubuh Derry. Air matanya menetes.

“Derry, mengapa ini terjadi,” suara Rindu terdengar pelan. Rindu mengusap kepala Derry. Airmatanya terus jatuh.

Derry tak menjawab, tubuh mulai kaku.

Baca Juga  Aku Sang Pujangga dari Desa, Nona

Rindu pun mulai melemah. Ia terbaring, napasnya terhenti namun tangannya masih menggenggam erat jemari Derry.

“Cinta buta dapat mengaburkan kemampuan berpikir logis dan rasional.”

#Disclaimer: cerita di dalam cerpen ini ini tidak ditujukan untuk menginspirasi kepada siapapun untuk melakukan tindakan serupa.