Penguasa Plafon
Oleh: Syabaharza
Malam itu menunjukkan pukul 19.00 Wib. Di sebuah rumah mewah dengan plafon terbuat dari PVC berwarna putih yang juga mewah. Plafon yang jarang dimiliki oleh orang kebanyakan. Plafon itu semakin ciamik karena dilingkari dengan lis yang menawan. Pemasangan plafon itu juga sepertinya dipasang oleh ahlinya.
Sehingga bubungan rumah tidak terlihat dari bawah. Rapatnya plafon rumah itu membuat perabungan menjadi sangat gelap. Suasana gelap di atas plafon itu disebabkan cahaya lampu ataupun cahaya lain yang tidak bisa menembusnya, bahkan cahaya lampu dari bawah rumah pun tidak sanggup untuk sekadar mengintip.
Rapatnya desain yang dibuat penghuni rumah membuat keadaan sangat pekat ditambah tidak adanya sirkulasi udara semakin menambah pengap plafon tersebut.
Di tengah gelapnya plafon, di perabungan rumah tersebut ada sebuah keluarga yang sedang mengobrol santai. Keluarga itu terdiri dari sepasang suami istri dan anak berjenis kelamin perampuan. Keluarga itu memang sudah terbiasa melakukan aktivitas dalam kegelapan. Mulai dari istirahat bakda mencari nafkah, mengobrol ringan sampai kepada memejamkan mata menuju peraduan mereka lakukan dalam kegelapan.
“Aku iri dengan saudara kita yang tinggal di rumah ujung sana, ”seekor tikus jantan besar membuka percakapan.
Jika dilihat dari perawakannya, dia adalah kepala rumah tangga. Walaupun usianya sudah cukup lanjut, tapi aura ketampanannya di masa lalu masih terlihat. Dua telinganya yang sangat lebar, sorot matanya yang tajam, badan yang proporsional, ekor yang panjang dan kaki-kaki yang masih kuat mencengkram adalah bukti bahwa ia adalah sosok yang tampan dan berwibawa di masa mudanya.
Ketampanannya sedikit ternoda dengan kumis yang ada di atas bibirnya. Kumisnya tidak presisi lagi. Jumlah sebelah kiri dan kanan tidak kompak. Kumis di sebelah kiri berjumlah lima, sedangkan sebelah kanan berjumlah empat. Ditambah kumis sebelah kiri ada yang ikal tiga helai.
“Iri kenapa?” tanya tikus yang lebih gendut dari tikus yang tadi dan berjenis kelamin betina.
Tikus yang baru saja bertanya itu mempunyai badan yang montok, tapi lebih mendekati kepada gembrot. Karena keadaan badannya itu, terkadang tikus yang satu ini mengalami kesulitan dalam beraktifitas. Jangankan untuk berjalan, bergeser dari posisinya semula saja sudah kepayahan.
Tikus ini adalah ibu rumah tangga dalam keluarga itu. Perubahan tubuhnya terjadi setelah ia dikawini oleh tikus jantan yang besar tadi. Sebab ketika masih perawan dulu badannya sangat eksotis. Bodinya seperti gitar spanyol, alisnya seperti semut sedang lomba berbaris, sangat rapi. Sehingga pada waktu sebelum kawin, ia menjadi primadona di antara tikus-tikus jantan lainnya.
“Saudara kita itu tinggal di sebuah rumah reot yang sudah miring ke kanan,” ujar tikus jantan.
Tempatnya tinggal itu tidak senyaman hunian kita ini,” tikus jantan itu melanjutkan.
“Kalau hujan mereka kebasahan, kalau malam mereka kedinginan karena angin begitu mudah menerobos huniannya,” tikus jantan itu meneruskan ceritanya.
Obrolan mereka mendadak terhenti, karena dari bawah terdengar sayup-sayup suara penghuni rumah memasuki kamar tempat mereka sedang berbincang-bincang.
Mereka beruntung mendapatkan plafon rumah mewah itu. Tempat yang sudah mereka anggap seperti apartemen mewah. Apartemen yang didapatkan secara cuma-cuma.
“Tapi, mereka tidak pernah berkeluh kesah,” tikus jantan terus bercerita, setelah menganggap suasana sudah aman terkendali.
Tikus betina dan anak wanitanya masih setia mendengarkan. Sambil sesekali anak wanitanya mengambil makanan yang ada di meja makan mereka. Meja makan itu terbuat dari piring plastik yang sudah pecah sebelah. Di dalam piring yang mereka sebut meja makan itu tersedia sebuah kepala ikan kakap yang tidak utuh lagi.
Kepala ikan itu sudah tidak ada mata dan insangnya. Kepala ikan itu adalah makanan mewah mereka malam itu. Kepala ikan yang didapat dengan susah payah oleh tikus jantan di tempat cuci piring penghuni rumah yang mereka tumpangi ini.
“Mereka berkata bahwa lebih mudah mendapatkan ketenangan di hunian mereka itu,” tikus jantan kembali melanjutkan ceritanya.
“Kenapa ayah, bukankah hunian kita ini lebih enak dan nyaman?” tanya anak tikus dengan polosnya.
Anak tikus itu berusia sekitar empat tahun lebih. Dia belum mengetahui bagaimana susahnya mencari nafkah untuk keluarga, dia belum tahu bagaimana merasakan kesedihan saat tidak ada makanan untuk dilahap. Yang dia tahu hanya kesenangan dan makan enak.
Kalau malam mereka dengan mudah menyaksikan indahnya bintang di langit, melalui atap rumah yang berlobang, kalau pagi mereka bisa menghirup udara segar sehingga kesehatan mereka terjamin,” jawab tikus jantan menceritakan alasan sahabatnya.
Anak tikus yang masih balita itu tampak tidak paham apa yang dikatakan ayahnya.Ia hanya manggut-manggut sambil berusaha mengeluarkan duri ikan yang nyangkut di giginya.Melihat itu tikus betina membantu sang anak mengeluarkan duri ikan tadi.
“Dari segi makanan sehari-hari, mereka lebih menyedihkan sekali,” tikus jantan melanjutkan ceritanya.
“Karena tinggal di rumah orang fakir, mereka tidak pernah mendapatkan makanan yang enak, bahkan terkadang mereka harus berpuasa dua hari karena tidak mendapatkan makanan,”tikus jantan belum mau berhenti bercerita.


