Penguasa Plafon
Tikus betina dan anaknya masih terus menyimak cerita tikus jantan. Kepala ikan di meja makan mereka sudah tidak bersisa lagi di makan anak mereka. Efeknya anak tikus itu sering menguap. Gigi kecilnya terlihat jelas ketika ia membuka mulutnya karena kantuk berat.
Tikus betina sangat pengertian, sehingga anaknya disuruh berbaring di pangkuannya. Tujuannya agar anaknya bisa tidur dengan nyaman dan lelap. Dan dalam hitungan detik anak tikus itu sudah berlayar ke pulau kapuk dalam belaian sang ibu. Sungguh bukti kasih sayang seorang ibu ke anaknya. Walaupun anaknya itu sering juga membuat masalah. Tapi ibu tikus itu tetap sayang kepada anaknya.
“Pernah satu hari mulut mereka sekeluarga terluka, akibat terpaksa memakan tulang ikan,”tikus jantan melanjutkan ceritanya.
“Kenapa?” tanya tikus betina terkejut, namun ia tetap berusaha tidak menggerakkan badannya takut anaknya terbangun dari tidurnya.
“Karena saat itu penghuni rumah yang ditumpangi mereka tidak menyisakan lagi makanan selain tulang ikan,” jelas tikus jantan.
“Jadi terpaksa mereka memakan tulang ikan itu,” pungkas tikus jantan.
Selanjutnya mereka seperti orang bisu. Tidak dapat mengeluarkan aksara sehurup pun.Pandangan mereka terfokus kepada anak mereka yang sedang tertidur lelap. Entah kenapa pikiran mereka kompak, bahwa jangan sampai anak kesayangan mereka itu nanti bernasib sama seperti saudara mereka yang barusan diceritakan.
Mereka takut nanti anaknya menjadi gelandangan di selokan-selokan. Mencari makanan di tempat-tempat sampah. Mengais rezeki dari lobang-lobang pembuangan air. Atau lebih tragis lagi tewas dalam perangkap yang dipasang manusia.
“Kasian ya saudara kita itu,” kata tikus betina yang juga sudah mulai menguap.
“Ya…tapi mudah-mudahan mereka segera mendapatkan tempat yang lebih layak lagi,” ujar tikus jantan menutup obrolan mereka malam itu.
Obrolan mereka terpaksa diakhiri, karena tikus jantan dan tikus betina sudah dikuasai rasa kantuk, sehingga terkadang pembicaraan mereka sudah tidak terarah. Tikus jantan pun memberi isyarat kepada tikus betina untuk membawa anaknya berbaring dengan paripurna ke sudut kiri.
Tikus jantan pun bergeser ke sudu kanan tempat peraduannya miliknya. Ia memilih sebelah kanan karena disana sebenarnya lokasi yang berbahaya, sebab di sudut kanan itu dipenuhi gulungan kabel listrik tipis dan telanjang.
Ia berani menanggung risiko demi menyelamatkan anak dan istrinya. Kabel listrik itu tampaknya sudah mengalami aus karena isolasinya retak, sehingga kalau tidak hati-hati dan menyentuhnya nyawa bisa melayang atau setidaknya membuat aliran listrik menjadi padam.
Dengan hati-hati tikus jantan merebahkan tubuhnya. Tapi karena memang malam itu sudah mengantuk berat, tangan kirinya tidak sengaja menyentuh kabel yang sudah aus tadi.
Seketika ia merasakan getaran hebat di seluruh tubuhnya, dan saat itulah ia langsung pingsan. Karena tikus betina dan anaknya sudah terlelap terlebih dahulu, membuat mereka tidak mengetahui keadaan tikus jantan.
Sementara di kamar bawah terdengar suara teriakan seorang perempuan.
“Anto, tolong ambilkan ibu lilin, setelah itu lihat KWH apakah pulsanya sudah habis.”
*****
Toboali, Oktober 2025
Bionarasi Penulis
Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Putra asli Pelabuhan Dalam,
Pemulutan ini sekarang tinggal di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan,
Kepulauan Bangka Belitung. Untuk diskusi dengan penulis, silakan ke:
