Mereka pun melangkah di malam cerah, berpegang tangan, mencoba meninggalkan takdir. Namun, langit seketika berubah. Awan gelap menggulung, guruh menggelegar, kilat menyambar. Angin menderu liar. Sungai yang tenang beriak ganas, bergelombang tinggi seperti amukan naga. Puluhan buaya bermunculan di permukaan air, melingkar seperti pasukan penjaga.

Dari seberang sungai, muncul seorang pemuda berpakaian putih kehijauan, bermata tajam namun bersinar lembut. Ia mengejar mereka. Itulah Bujang Baya, jelmaan dari penuhi sungai.

Pertarungan sengit pun terjadi. Bujang Rancak berusaha mempertahankan cintanya, namun kekuatan siluman tak bisa ditandingi manusia. Ia terluka dan lari ke dalam hutan, tertelan oleh rimba. Dayang Simpur menangis, gemetar, tak mampu bergerak.

Bujang Baya mendekat. “Jangan takut. Aku tak akan menyakitimu. Aku adalah Bujang Baya… anak kandung Bik Semah dan Mang Serah yang dulu hilang di sungai. Kau adalah putri Raja Penuhi Sungai yang dititipkan pada mereka agar tumbuh dengan kasih manusia.”

Dayang Simpur tertegun. Air matanya jatuh, bukan hanya karena kehilangan cinta manusia, tapi karena akhirnya ia mengetahui siapa dirinya.

Baca Juga  Guruku Pahlawanku

Hujan belum reda, air sungai makin tinggi. Desa sunyi. Warga berdiam di rumah. Hanya Bik Semah dan Mang Serah yang nekat keluar, menerobos hujan, mencari Dayang. Di tepi sungai, mereka terkejut melihat puluhan orang asing berwajah pucat namun rupawan berdiri diam. Dari tengah mereka, melangkah seorang lelaki paruh baya berkharisma luar biasa.

“Aku Raja Penuhi Sungai. Jangan takut. Kalian adalah manusia mulia yang telah menjaga anak kami. Sekarang waktunya Dayang Simpur kembali ke alamnya, dan bersatu dengan Bujang Baya.”

Tak lama, Bujang Baya dan Dayang Simpur muncul di antara kabut. Berikutnya Atok Garu (pawang buaya/dukun kampong) bersama beberapa warga pun tiba dan memohon kejelasan Raja Siluman Buaya.

Raja Siluman Buya  berkata, “Bujang Baya bukan lagi manusia. Ia telah berpindah alam sejak tenggelam dulu. Kini ia adalah putra penjaga sungai. Ia akan menikahi Dayang Simpur, putri kami. Mereka akan menjaga sungai ini bersama.”

Bik Semah menatap Bujang Baya lekat-lekat. Air matanya tak bisa dibendung.

Baca Juga  Panggung Kosong

“Bujang Baya… anakku?”

Bujang Baya bersimpuh, mencium kaki ibu dan ayahnya.

“Ampuni anakmu, Ibu… Ayah… restui kami kembali.”

Mang Serah hanya memeluk mereka, menangis diam.

Dengan berat hati, Bik Semah dan Mang Serah melepas Dayang Simpur dan Bujang Baya masuk ke sungai. Perlahan tubuh mereka lenyap ditelan air yang tenang kembali.

Raja Siluman Buaya bersabda kepada warga desa, “Kami tidak akan mengganggu manusia, selama manusia tak mengganggu kami. Jaga sungai, jaga seimbangnya alam. Maka kemakmuran milik bersama.”

Sebelum pergi, ia meninggalkan pesan, “Jika kalian, terutama Bik Semah dan Mang Serah, ingin bertemu Dayang Simpur dan Bujang Baya, datanglah tiap malam purnama. Bawalah tampah beralas Daun Simpur, isi dengan Nasi ketan, ayam panggang, telur rebus, pisang, dan air nira campur madu.” Maka konon cerita paling pantang membawa makan atau sajian ini ke sungai, kali, danau atau laut akan mendatang bala karena ini makanan kesukaan penghuni atau makhluk gaib ada didalam kali, sungai, danau, dan laut.

Baca Juga  Senja Bercerita

Benar saja. Setiap purnama, Dayang Simpur dan Bujang Baya muncul sebagai manusia jelita dan tampan, berdiri di tepi sungai, menyapa orang tuanya dan warga desa dalam diam.

Tapi waktu tak bisa ditahan. Suatu hari, Bik Semah dan Mang Serah berpulang. Sejak itu, malam purnama menjadi sunyi. Tak ada yang berani ke sungai.

Namun konon, siapa pun yang mendekat ke tepi sungai saat bulan penuh, akan melihat dua ekor buaya berwarna kuning keemasan dan putih berenang berdampingan. Mereka adalah Dayang Simpur dan Bujang Baya, sang penjaga sungai. Di dekat kuburan Bik Semah dan Mang Serah, tumbuh pohon Simpur yang mekar subur. Bunganya selalu jatuh ke arah sungai… seolah menjadi jembatan cinta antara dua dunia.

Pesan Moral

Cintai dan jagalah alam seperti kau mencintai keluargamu. Karena bila alam murka, ia bisa mengambil, namun jika dihormati, ia bisa mengembalikan jauh lebih indah dari yang diambil.

Tamat

Penulis cerita adalah guru Bahasa Indonesia dan Pembina kegiatan literasi di SMA  Toboali Kabupaten Bangka Selatan