Kini, setelah dewasa, kita sadar bahwa nasi sisa memang “dimakan” oleh makhluk lain yang dampaknya jauh lebih nyata dan berbahaya yaitu gas metana.

Di Hari Kesehatan Nasional (HKN) ini, kita diajak merenung bahwa kesehatan tak lagi sebatas absennya penyakit. Kesehatan sejati adalah kesehatan ekologis. Ketika kita menumpuk sisa makanan, kita menciptakan ancaman.

Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2024, lebih dari 50% sampah rumah tangga di Indonesia merupakan sisa makanan. Sampah organik inilah yang memadati Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Dari Kearifan Lokal ke Kebijakan Nasional

Jauh sebelum pemerintah menerbitkan regulasi, nenek moyang kita telah lebih dulu mengajarkan zero waste culture melalui nilai-nilai sederhana. Mitos “nasi dimakan jin” adalah cara ampuh untuk menanamkan rasa syukur dan tanggung jawab sejak dini.

Baca Juga  Membangun Citra Bahari Melalui Aset Terumbu Karang di Pulau Kelapan

Kini, pesan kearifan lokal itu diperkuat oleh negara. Melalui Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional (Jakstranas) Pengelolaan Sampah, pemerintah menegaskan pentingnya pengurangan sampah organik sejak dari sumbernya. Artinya, setiap rumah tangga punya peran nyata. Kita tidak bisa lagi berlindung di balik mitos akan tetapi saatnya bergerak dari hati.

Mubo: Tradisi Bijak yang Menyehatkan

Mari kita hidupkan kembali tradisi indah yang diajarkan orang tua kita: mubo yaitu menambah porsi setelah piring pertama habis, bukan mengambil berlebihan di awal.

  • Ambil secukupnya. Jangan serakah, ambil hanya porsi yang pasti akan habis.
  • Jika kurang, mubo-lah. Tambah porsi kedua dengan kesadaran, tanpa rasa bersalah.
  • Jangan pejatik. Hentikan pemborosan yang melukai keberkahan dan membebani bumi.
Baca Juga  Aku, Pesisir, dan Sampah Plastik: Cerita yang Harus Diakhiri

Piring yang bersih adalah simbol tubuh yang terisi, hati yang bersyukur, dan bumi yang tidak terbebani. Di momentum Hari Kesehatan Nasional ini, mari kita pahami: sifat rakus dan serakah bukan hanya tindakan, tetapi cerminan hati yang belum belajar bersyukur.

Maka, mari kita mulai revolusi sehat dari meja makan kita sendiri. Ambil secukupnya, habiskan dengan syukur.

Karena tubuh ingin sehat, bumi ingin sehat, dan hati pun ingin tenang.