“Pindah jiwa sekarang susah, terlalu banyak yang harus disiapkan berkasnya, belum lagi nanti ada tetek bengeknya,” ujar koin Rp200.

“Atau kita protes saja.”

Kali ini koin Rp100 mengeluarkan ide yang sedikit berani. Mungkin ia terinspirasi dengan adanya unjuk rasa di sebuah daerah beberapa waktu yang lalu.

“Tambah susah itu.”

“Mau unjuk rasa langsung, kita kecil. Lewat aspirasi, belum ada perkumpulan yang mewakili kita.”

Koin Rp200 masih belum tahu bagaimana caranya agar kaum seperti mereka bisa migrasi ke lokasi yang bisa menerima mereka.

Akhirnya koin Rp100 dan koin Rp200 terdiam seribu bahasa. Tidak ada lagi yang bisa mereka utarakan. Pikiran mereka mampet seperti saluran air di Jakarta ketika hujan lebat turun.

*****

Suasana malam itu penuh kegelisahan di tempat para koin bersemayam. Mereka lagi gundah dan juga khawatir, karena saudara mereka koin Rp500 — baik yang warna kuning maupun silver — belum juga pulang. Padahal koin Rp1000 sudah kembali satu jam yang lalu, tentunya dengan keadaan seperti sebelum-sebelumnya, tubuh kotor dan bau minyak.

Penghuni tempat itu mencoba menerka-nerka apa yang terjadi pada dua koin Rp500. pikiran mereka bergerilya memunculkan angan masing-masing. Koin Rp1000 berpikir jika koin Rp500 sudah diculik dan tidak akan dikembalikan lagi. Koin Rp200 berpikir mungkin koin Rp500 belum disuruh pulang atau mungkin disuruh menginap.

Sedangkan koin Rp100 berpikir lebih ekstrem lagi, dalam pikirannya koin Rp500 sudah dirubah bentuknya menjadi sebuah perhiasan. Karena ia pernah mendengar bahwa makhluk yang tinggi besar itu sering mempermak koin-koin menjadi sebuah cincin. Nanti cincin itu akan dipamerkan kepada kaumnya dan dibanggakan, padahal itu hanya imitasi.

Baca Juga  Bersorai Lestari

Namun, khayalan mereka terganggu, ketika tiba-tiba kedua koin Rp500 kembali ke hunian mereka.

“Dari mana kalian?”

Koin Rp1000 tampak tidak sabar untuk mendapatkan informasi.

“Sungguh tragis nasib kami hari ini,” ujar koin Rp500 yang berwarna kuning.

“Iya, baru sekarang aku merasakan diperbudak,” jawab koin Rp500 warna silver menimpali.

Koin Rp1000, Rp200, dan Rp100 saling pandang. Mereka masih dalam keadaan bingung.

“Badan kami disatukan dengan paksa, lalu kami dijepitkan ke sebuah benda halus di dagu, kemudian kami dipaksa menarik benda tersebut sampai tercabut.”

Kali ini kedua koin Rp500 kompak bercerita.

“Bukan cuma satu yang harus kami cabut, tapi puluhan.”

“Selesai di daerah dagu, kami dibawa ke lokasi yang sangat pengap dan berbau.”

Koin Rp500 warna kuning mempertegas penderitaan mereka hari itu.

“Di daerah yang baru itu kami kembali dipaksa kerja rodi,” Koin Rp500 warnasilver menambahkan.

Setelah itu kedua koin Rp500 tidak berbicara apa-apa. Mereka bergegas merebahkan tubuh ke peraduan. Tubuh mereka terasa sakit semua.

Koin Rp1000 memandangi koin Rp200 dan koin Rp100 yang masih saling berpandangan.

“Kalian tinggal menunggu giliran dieksploitasi seperti kami.”

Lalu koin Rp.1000 ikut berbaring untuk mempersiapkan diri bertugas esok hari. Seperti biasa ia tidur dengan badan penuh kotoran dan bau minyak.

Ia tidur dengan penuh harapan tugasnya esok hari bisa enak seperti para pejabat di negeri antah-berantah.

Baca Juga  Pengelabuan

Koin Rp100 dan Rp200 memperhatikan ketiga saudaranya itu tidur pulas. Sesekali terdengar dengkuran yang sangat keras. Namun dengkuran-dengkuran itu tetap tidak terdengar oleh penguasa yang mengekploitasi mereka.

Keinginan untuk transmigrasi ke daerah yang membutuhkan mereka semakin menguat dan membumbung langit.

*****

Pagi itu semua koin sudah terbangun dari istirahatnya. Koin Rp1000 sudah menunggu pekerjaan apa yang didapatnya hari itu. Kedua koin Rp500 juga sudah stanby, walaupun masih merasakan sakit di sebagian badannya. Sementara koin Rp100 dan koin Rp200 semakin was-was, mereka masih terngiang dengan perkataan koin Rp1000 semalam.

Dieksploitasi.

Mereka bertanya-tanya dalam hati, apakah ucapan koin Rp1000 itu benar akan terjadi pada diri mereka.

Satu jam lebih sudah mereka menunggu namun belum juga ada tanda-tanda tugas untuk mereka.

“Ada apa ya?”

Koin Rp1000 menatap saudara-saudaranya.

Mereka diam tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Dari arah samping hunian mereka terdengar pemberitaan di sebuah televisi dengan ukuran yang sangat besar.

Ada pengumuman dari penguasa negeri bahwa semua jenis uang logam tidak akan digunakan lagi dalam sistem transaksi dan perbankan mulai hari itu. Sehingga masyarakat bisa membuang atau menguburkan segala bentuk uang logam.

Warta itu disampaikan oleh stasiun televisi yang sedang bermasalah karena sebuah acaranya membuat kumpulan uang logam menjadi panik dan bertambah ketakutan.

Suasana horor tiba-tiba langsung

menyerang mereka tanpa bisa dilawan. Dalam pikiran mereka, para penguasa akan segera membumihanguskan mereka dengan keji. Dan sudah dipastikan mereka tidak bisa melawan. seperti tentara zionis membunuh pejuang Islam di Gaza.

Baca Juga  Sang Motivator Vs sang Pelemah

“Tamatlah riwayat kita.”

Koin Rp1000 menatap saudara-saudaranya dengan tatapan masygul. Ia tidak bisa membayangkan bahwa persaudaraan mereka akan sirna oleh suatu kebijakan yang tidak pro kepada yang kecil.

Benar saja kekhawatiran mereka ternyata jadi kenyataan, karena beberapa saat kemudian terdengar langkah kaki mendekati hunian mereka. Dan dengan sekali cengkraman tangannya mmeraih sebuah mug tempat koin-koin itu berdiam diri. Mug itu bergambar pasangan calon bupati suatu daerah. Kemudian koin-koin itu merasa bahwa mereka dibawa terbang pindah dari lokasi awal ke suatu lokasi baru.

*****

Suasana gelap kini menyelimuti koin-koin itu. Setelah tadi mereka merasakan tempat tinggal mereka seperti mengalami gempa bumi yang sangat dahsyat, lebih dahsyat dari gampa bumi di Aceh pada tahun 2004 silam. Setelah itu mereka merasakan terjun bebas dari posisi yang sangat tinggi.

Kini mereka sudah berpindah tempat dan mungkin sebentar lagi akan berpindah alam. Mereka tidak tahu takdir apa lagi yang akan menghampiri mereka. Mungkin dengan pergantian rezim, mereka bisa eksis kembali atau mungkin juga rezim yang baru akan lebih kejam. Mereka meratapi nasib dengan sebuah pertanyaan besar yang belum terjawab. Mengapa mereka dilahirkan?

Bionarasi Penulis:

Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Putra asli Pelabuhan Dalam, Pemulutan ini sekarang tinggal di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Untuk diskusi dengan penulis, silakan ke: [email protected]